WILAYAH langganan banjir di Kota Bekasi belum bisa lega pada musim hujan ini. Warga di sana tetap harus bersiaga dan belum bisa menikmati indahnya musim hujan.
Sebab, pemerintah setempat mengaku belum bisa mengentaskan 49 titik banjir di sana. Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi baru sekadar mengurangi jumlah air yang masuk ke wilayah langganan banjir.
"Memang belum bisa mengentaskan titik banjir, tapi bisa mengurangi volume banjir di satu titik," kata Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta) Kota Bekasi, Tri Adhianto, akhir pekan lalu, di kantornya.
Menurut tri, ada dua penyebab banjir di Kota Bekasi, yaitu yang disebabkan air hujan dan debit air kiriman dari Bogor. Sejauh ini yang paling sering ialah kiriman dari Bogor setelah bendungan Kali Bekasi terlambat dibuka.
Untuk itu, jelas Tri, Pemkot Bekasi berupaya mengurangi volume banjir di sejumlah titik dengan membuat polder. Upaya itu dilakukan lantaran struktur topografi Kota Bekasi rendah. Akibatnya, ada genangan air saat curah hujan tinggi dan air kiriman belum mengalir ke arah hilir. "Topografi Bekasi ini rendah. Karena itu, kita siasati dengan membuat polder," kilahnya.
Sedikitnya, enam polder dibangun pada tahun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2015. Di antaranya di wilayah Arenjaya, Perumahan IKIP, Pengasinan, Danita, Irigasi, dan Galaxy. "Saat ini progresnya sudah 50%," imbuhnya.
Upaya lain ialah penguatan tanggul di daerah yang dilewati sungai besar, seperti Sungai Cikeas. Program penguatan tanggul tersebut juga salah satu program dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, yaitu Kota Bekasi mendapat bantuan sebesar Rp30 miliar untuk mengerjakan penguatan tanggul tersebut.
Sejumlah tanggul yang ada di bantaran Kali Bekasi itu di antaranya tanggul di Kemang IFI, Perumahan Pondokgede Permai, Kompleks Depnaker, dan Perumahan Pondok Mitra Lestari.
"Karena itu, kami yakin mampu meminimalkan volume banjir sebesar 30% di 49 titik banjir. Setidaknya ada 18 titik banjir yang volume airnya berkurang meski hanya volume banjirnya yang kita kurangi," jelasnya. Penanganan Banjir Untuk mengantisipasi dampak musim hujan tahun ini, Satuan Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (SRC BPBD) Kota Bekasi telah disiagakan, khususnya untuk wilayah yang biasa mengalami banjir terparah (ketinggian air lebih dari 1 meter).
Koordinator SRC BPBD Kota Bekasi, Ahmad Dumiyati, menjelaskan ada 71 titik banjir di Kota Bekasi. Namun, banjir di atas 1 meter ada di 49 titik. Sisanya, ketinggian air di bawah 1 meter dan biasanya segera surut.
SRC BPDB telah menyiapkan sebanyak 54 personel dan 40 perahu karet beserta keperluan logistik lainnya. Menurutnya, jumlah tersebut belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan di seluruh titik banjir di sana.
"Karena untuk penanganan SAR minimal dua perahu karet di satu titik. Untuk personel, yang harus kita turunkan minimal delapan orang untuk satu wilayah yang perlu evakuasi dan SAR," katanya.
Kekurangan personel tersebut, kata Ahmad, ditambahkan jajaran samping relawan BPBD yang berjumlah sekitar 200 orang. Pihaknya telah berkoorodinasi dengan para relawan tersebut. Mereka berasal dari Himpunan Remaja Pecinta Alam (Hirmapala), Anak Ciliwung, Pramuka Peduli, Teruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, dan lainnya.(J-3)