BERBAGAI lukisan dilengkapi kata-kata menghiasi bak sebagian truk yang melintas di jalanan, mulai yang senonoh, lucu, hingga menenangkan.
Siapa nyana, ternyata tidak semua pelukis bak truk mau menorehkan kuasnya atas semau pemesannya.
Salah satu pelukis yang demikian ialah Buyung, 70, yang biasa melukis truk-truk di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.
Baginya, makna tulisan atau gambar sangat berarti.
Gambar dan tulisan yang senonoh, menurut penilaiannya, selain tidak sopan, juga mengganggu pengguna jalan.
"Saya orang Yogyakarta. Itu enggak sesuai dengan pribadi saya dan menggangu pengguna jalan di belakang truk," kata laki-laki bernama asli Suwarno saat ditemui di rumahnya di kawasan Perumpung, Jatinegara, kemarin.
Selain itu, ia juga menolak melukis yang berbau mistis.
Hal itu ia pertahankan sejak mulai menekuni hobi melukis bak truk pada 1970 hingga kini saat laki-laki itu tidak rutin lagi melukis lantaran usia dan penyakit jantung yang dideritanya.
"Sekarang untuk melukis sudah gemetar," katanya.
Buyung mengaku beberapa kali pernah 'kabur' dengan mengayuh sepeda ke Pasar Induk Cipinang untuk menyalurkan hobinya.
Namun, kini ia tidak melakukannya lagi karena sepeda yang jadi satu-satunya alat transportasi milik dia disimpan putranya, Miswadi, 38, di pasar itu.
Miswadi pula yang kini menggantikan Buyung sebagai peukis bak truk di Pasar Induk Cipinang.
Di usianya yang renta dan tanpa kegiatan, Buyung hanya berharap bisa mewujudkan satu keinginannya yang belum terlaksana, yaitu menemui Sri Sultan Hamengku Buwono X, teman sebangkunya saat sekolah di Sekolah Rakyat (SR) Keputran 1, Yogyakarta.
"Bisa kesempatan sekolah di sana karena kakek saya abdi dalem. Saya dulu manggilnya Gusti Her (Herjuno Darpito). Kami dulu minum es bareng, makan sate bareng, main bareng. Saya ingin ketemu beliau," kenangnya sambil membuka-buka album foto semasa bersekolah dengan Sri Sultan.
Untuk memenuhi keinginannya, sebelum 2000 Buyung mencoba menunggu di Alun-Alun Yogyakarta sembari berharap bertemu dengan teman yang dirindukannya.
Namun, keinginan itu hingga kini tak jua terwujud.