PROGRAM Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menata kawasan kumuh terus berjalan. Salah satu langkahnya ialah merelokasi warga ke rumah susun (rusun) agar bisa tinggal dan hidup lebih layak. Namun, apa daya, kondisi rusun yang harus mereka tempati tidak jauh berbeda dengan rumah semula yang tidak layak ditinggali. Tengok saja Rusun Komarudin di Jalan Komarudin, Cakung, Jakarta Timur. Rusun dengan cat dinding didominasi warna krem itu terdiri dari enam blok. Setiap blok memiliki 100 unit hunian yang berada pada lima lantai. Setiap unit rusun berukuran 30 m2 memiliki dua kamar tidur, dapur, dan satu kamar mandi.
Namun, minimnya perawatan membuat kondisi rusun jauh dari kesan layak. Berdasarkan pantauan, dari jauh pun bangunan rusun terlihat kusam. Cat tembok bagian luar banyak yang terkelupas dan sebagian dipenuhi coretan. Sementara itu, kolam yang ada di sekitarnya dipenuhi lumut serta ditumbuhi eceng gondok. Alang-alang pun tumbuh subur di sekitar rusun. Kondisi itu diperparah bau tidak sedap dari tumpukan sampah di halaman belakang rusun. Memasuki bagian dalam, lantai setiap blok yang terbuat dari semen juga banyak yang terkelupas bahkan berlubang. Beberapa bagian dinding berlumut akibat pipa air yang bocor, bahkan lantai dasar sering tergenang air.
"Itu baru di bagian bawah (rusun). Di dalam (unit rusun), air kamar mandi juga rembes karena pipanya bocor. Hampir semua (unit rusun) yang ada di sini pipa-pipanya bocor," kata Wahyuti, 42, warga yang menempati Blok D lantai 3 saat ditemui di rusun Komarudin, beberapa waktu lalu. Warga eks bantaran Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat, itu mengatakan kondisi demikian terjadi sejak ia menempati rusun pada Februari 2014. "Yang pertama kali menempati rusun ini warga Kali Sentiong. Kondisinya ya sudah seperti ini. Bahkan, dulu pintu juga rusak, sehingga saya memperbaikinya sendiri," ujar Wahyuti. Ia mengaku telah mengeluarkan Rp1.200.000 untuk perbaikan kerusakan pada unit yang ditempatinya. Kerusakan antara lain terjadi pada pintu, keran air, dan lantai kamar mandi yang bocor.
Keluhan senada juga diungkapkan Rahmini, 31, yang tinggal di Blok E lantai 4. Menurutnya, kerusakan rusun bahkan sempat menimbulkan korban, karena kakinya tergores pecahan lantai keramik yang terlepas di bagian anak tangga. "Kakinya robek. Terlepas dia enggak hati-hati, tapi kerusakan ba ngunan ini membahayakan," ujarnya. Memang anak tangga setiap blok rusun banyak yang rusak. Keramik pelapis anak tangga sebagian terlepas, sedangkan beton yang ada di baliknya terkikir dan ambrol.
Tidak terawat Kepala Unit Pengelola Rusun Wilayah III DKI Jakarta Sayid Ali mengaku sudah beberapa kali memperbaiki rusun tersebut, tapi dalam skala kecil. "Bagian yang rusak itu beberapa kali diperbaiki, tetapi memang pekerjaannya bertahap," jelasnya. Ia juga mengakui sejak dibangun oleh pemerintah pusat (Kementerian Pekerjaan Umum) pada 2008, Rusun Komarudin memang tidak terawat. Pada 2013, rusun itu diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Awal 2014, rusun mulai ditempati warga bantaran Kali Sentiong di perbatasan wilayah Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat, dan Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara Warga dari beberapa lokasi juga direlokasi ke sejumlah unit yang tersisa di rusun tersebut, di antaranya warga bantaran Kali Mampang, Jakarta Selatan, warga Sumur Batu, Jakarta Pusat, warga Pulo Gadung, Jakarta Timur, dan warga Pinangsia, Jakarta Barat. Mereka semua kini menanti perbaikan rusun agar bisa benar-benat menikmati hidup layak. (J-2)