Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Tarif Parkir Rp5.000 per Jam Dinilai tak Ekonomis

Muhammad Ghifari A
04/2/2026 20:35
Tarif Parkir Rp5.000 per Jam Dinilai tak Ekonomis
Tarif parkir Jakarta dinilai stagnan selama 15 tahun.(Dok. MI)

INDUSTRI pengelolaan parkir di Jakarta menghadapi tantangan besar karena tarif parkir resmi dinilai stagnan selama lebih dari 15 tahun. Kondisi ini membuat investasi pembangunan gedung parkir mandiri terancam tidak layak secara ekonomi.

Chief Executive Officer Centrepark, Charles Richard Oentomo, menjelaskan bahwa tarif parkir Jakarta saat ini masih mengacu pada regulasi lama dengan kisaran Rp5.000 per jam untuk mobil.

Menurutnya, ketimpangan terlihat jelas jika dibandingkan dengan kenaikan biaya operasional, khususnya upah tenaga kerja. Pada periode 2009–2011, tarif parkir berada di angka Rp2.000 per jam dengan Upah Minimum Kota (UMK) sekitar Rp1,3 juta. Sementara pada 2026, UMK Jakarta telah mencapai Rp5,7 juta atau meningkat hampir 400 persen, sedangkan tarif parkir hanya naik satu kali menjadi Rp5.000 per jam.

“Kenaikan UMK terus terjadi setiap tahun, begitu juga dengan biaya investasi bahan baku dan listrik. Namun tarif parkir tidak bisa bergerak karena merupakan kebijakan yang tidak populer bagi pemerintah daerah,” ujar Charles dalam kegiatan Centrepark Media Gathering 2026 bertema “Parking Outlook 2026: Driving Urban Mobility in Indonesia", Rabu (4/2).

Ia menambahkan, stagnasi tarif tersebut berdampak pada kelayakan investasi pembangunan gedung parkir. Dengan kalkulasi belanja modal (capex) saat ini, masa balik modal atau payback period pembangunan fasilitas parkir mandiri membengkak hingga 18-20 tahun.

Angka tersebut dinilai tidak realistis bagi pelaku bisnis properti. Akibatnya, banyak pengembang memilih mengalokasikan lahan untuk ruang komersial seperti apartemen atau pusat perbelanjaan, serta hanya membangun fasilitas parkir seminim mungkin sesuai ketentuan perizinan.

“Jika kalkulasi bisnisnya tidak masuk, investor akan membangun versi sekecil mungkin untuk parkir. Ini memicu ketidakseimbangan antara volume kendaraan yang terus tumbuh dengan ketersediaan lahan parkir resmi,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Centrepark juga menegaskan bahwa parkir merupakan elemen penting dalam sistem mobilitas perkotaan atau silent engine of urban mobility. Perusahaan mendorong transformasi pengelolaan parkir dari sistem manual menuju sistem terintegrasi berbasis teknologi.

Chief Operating Officer & Acting Chief Financial Officer Centrepark, Chris Haryadi, menjelaskan penerapan teknologi seperti automated gate, License Plate Recognition (LPR), parking guidance system, centralized control room, serta layanan cashless dan ticketless untuk meningkatkan ketertiban dan efisiensi operasional.

Sementara itu, Chief Strategy Officer Centrepark, Stephen Roy Imantaka, menilai parkir kini berevolusi dari sekadar cost center menjadi value driver yang dapat meningkatkan nilai properti dan mendukung ekosistem smart mobility perkotaan, termasuk kesiapan terhadap kendaraan listrik.

Centrepark saat ini mengelola lebih dari 700 lokasi di 60 kota di Indonesia dengan lebih dari 440.000 ruang parkir dan 360 juta transaksi parkir per tahun. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung mobilitas perkotaan yang lebih tertata, nyaman, dan berkelanjutan. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya