Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA menekan tingginya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar kembali mendapat sorotan melalui kegiatan edukasi keselamatan berkendara di SMAN 6 Kota Depok, Kamis (20/11). Program yang diinisiasi Yayasan Masyarakat Peduli Keselamatan dan Korban Kecelakaan Transportasi (Mapekka) ini menggandeng Jasa Raharja, Polres Metro Depok, serta tim medis RS Puri Cinere.
Kegiatan dibuka Wakil Kepala Sekolah, Setyowati yang menyinggung meningkatnya insiden lalu lintas akibat budaya berkendara tanpa SIM dan tanpa perlengkapan keselamatan. Ia menekankan peran sekolah dalam membentuk kebiasaan aman bagi siswa. Menurutnya, keselamatan harus menjadi kesadaran yang tumbuh dari rutinitas, bukan sekadar imbauan formal.
Ketua Yayasan Mapekka Haryo Pamungkas, menegaskan pentingnya mencegah kecelakaan sejak usia sekolah. Ia menyebut mayoritas insiden yang menimpa pelajar melibatkan sepeda motor. Ia menegaskan bahwa aturan kepemilikan SIM bukan sekadar administrasi.
"Instruksi gubernur mengenai kewajiban memiliki SIM adalah bentuk perlindungan bagi siswa, bukan sekadar aturan administratif," ujarnya seperti dikutip dari keterangannya, Jumat (21/11).
Dari Polres Metro Depok, Ipda Syarif Hidayatullah memberikan penegasan soal konsekuensi hukum bagi pengendara tanpa SIM. Ia mengingatkan bahwa pelajar bukanlah kelompok yang siap untuk menghadapi risiko lalu lintas.
"Aturan ada bukan untuk membatasi, tetapi untuk menyelamatkan," ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah lainnya, Sri Irlandarini, mengungkapkan bahwa SMAN 6 pernah kehilangan seorang siswa akibat kecelakaan motor, sebuah pengalaman yang membuat sekolah tegas menerapkan aturan.
"Siswa yang membawa motor wajib punya SIM. Kalau tidak, tidak kami izinkan," tuturnya.
Ia menilai kebijakan tersebut penting agar siswa memahami seriusnya risiko berkendara tanpa kelengkapan.
Tim medis RS Puri Cinere Ryzka Febriyani Anggita dan perawat Ade Firmansyah, mengisi sesi berikutnya dengan menjelaskan pola cedera yang umum dialami korban kecelakaan. Mereka mempraktikkan langkah pertolongan pertama berbasis prinsip ABC, yakni, aairway, breathing, circulation, dan menekankan pentingnya helm berstandar SNI sebagai pelindung krusial dari cedera kepala.
Perwakilan Jasa Raharja Erna menguraikan mekanisme perlindungan serta santunan kecelakaan, sambil mengingatkan bahwa bantuan tersebut bukan alasan bagi pengendara untuk mengabaikan keselamatan. Ia menambahkan bahwa kontribusi asuransi telah termasuk dalam pajak kendaraan yang dibayarkan masyarakat.
Tiga Duta Lalu Lintas, Muhammad Chalifatu Syamsi, Aryaabrhamaksatra Nararyaa Prabhaswara, dan Aurellia Raissa Husnul Chatimah mengajak para siswa menjauhi perilaku berisiko seperti balap liar, modifikasi ekstrem, dan berkendara tanpa helm.
Aurellia menegaskan, tindakan berbahaya tidak membuat seseorang terlihat keren, tetapi justru menempatkan diri dan orang lain dalam bahaya.
Acara ditutup dengan sesi interaktif dan pembacaan Pakta Integritas Keselamatan Berkendara. Para siswa menyatakan komitmen mematuhi aturan, memakai perlengkapan keselamatan, tidak berkendara tanpa SIM, serta menghindari tindakan berisiko di jalan. (E-4)
USAI Kepala SMAN 6 Kota Depok, Jawa Barat, dicopot dari jabatan, Kepala SMAN 13 Kota Depok, Jawa Barat, Teti Soesanti mengembalikan uang perpisahan yang telah dikutip dari siswa kelas XII.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved