Jumat 18 Maret 2016, 06:04 WIB

Nama Kawasan Memiliki Cerita

Akmal Fauzi | Megapolitan
Nama Kawasan Memiliki Cerita

Antara

 

JAKARTA sebelum menjadi kota metropolitan seperti saat ini merupakan kampung besar. Jika melihat Jakarta tempo dulu, hutan dan rawa masih terbentang. Kini, itu semua berganti hutan beton dengan bangunan tinggi berjajar-jajar. Namun, nama-nama daerah itu hingga kini masih dipakai. Sayangnya, sedikit warga Jakarta yang mengetahui latar belakang di balik nama itu. Di Jakarta Timur, misalnya, di sana ada daerah bernama Rawa Bunga atau biasa dikenal dengan sebutan Rawa Bening. Masyarakat lebih mengenal daerah itu sebagai pusat penjualan batu akik. Ternyata, nama Rawa Bunga sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Di masa penjajahan Belanda, daerah itu dikenal dengan nama Rawa Bangke. Ahli Sejarah Jakarta, Alwi Shahab, menjelaskan kata rawa bangke (bangkai) dipakai lantaran saat itu rawa-rawa di sekitar Jatinegara menjadi tempat pembuangan mayat serdadu Inggris. Dikisahkan Alwi, perseteruan antara Kerajaan Inggris dan Kekaisaran Prancis pada 1800-an menjalar ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Pada saat itu, tentara Inggris merasa terancam oleh bersatunya Belanda-Prancis seusai tergulingnya Raja Louise oleh Napoleon.

Karena itu, terjadilah pertempuran sengit di Matraman, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Rawa Bangke. "Pada 1813, terjadi pertempuran antara tentara Inggris dan tentara Prancis di Matraman, tentara Inggris banyak yang tewas, lalu di buang ke rawa-rawa di daerah Jatinegara depan stasiun. Sejak saat itu, disebut Rawa Bangke karena banyak bangkai. Kalau orang Betawi logatnya bangke" kata Alwi kepada Media Indonesia, akhir pekan lalu. Pada pertempuran itu, jelas Alwi, tentara Prancis masuk ke Jatinegara lewat rawa-rawa. Tentara Inggris salah perhitungan dan terdesak dengan serangan Prancis.

"Di Pal Meriam (Matraman)itu dulu Inggris bangun meriam-meriam di Matraman karena dipikir Inggris lewat Ancol. Ternyata Prancis lewat rawa di Jatinegara dan Inggris terdesak, kemudian banyak yang tewas," jelas Alwi. Pada saat itu, pertempuran juga terjadi di terowongan Taman Wilhelmina di area Masjid Istiqlal yang terhubung ke Benteng Berland di daerah Matraman. "Istiqlal kan dulu Benteng Belanda. Ada terowongan yang terhubung ke Berland Matraman" ujar Alwi. Rawa Bangke kemudian dikenal hingga 1980-an. Seiring dengan berjalannya waktu, Rawa Bangke diubah menjadi Rawa Bunga. Dikatakan Alwi, perubahan itu disebabkan masyarakat sekitar merasa risih dengan sebutan bangke.

Konotasi negatif bangke diubah menjadi harum (bunga). Hal senada dikatakan Yunus Mukri, tokoh masyarakat Rawa Bunga. Yunus mengatakan Rawa Bangke sangat dikenal dengan tempat berkumpulnya ulama di sebuah Surau yang kini menjadi Masjid Jami Al-Anwar yang sudah berdiri sejak 1859. "Dulu di masjid ini (Masjid Jami Al-Anwar) ada ulama besar. Guru Baqir Marzuki yang dikenal dengan Datuk Biru," kata pria berumur 75 tahun itu. Menurut Yunus, masyarakat Betawi Rawa Bunga sangat moderat dan bertoleransi tinggi. Selain Masjid Jami Al-Anwar, di sana juga ada Kelenteng Bio Shia Djin Kong yang dibangun Tung Djie Wie, tabib Tionghoa yang hijrah ke Indonesia.

Rumah ibadah itu sudah berdiri lebih dari 70 tahun. Selain itu, ada nama Hek Kramat Jati yang juga memiliki kisah khas. Wilayah Hek dikenal dengan pertigaan di Jalan Raya Bogor menuju Kramat Jati dan Pondok Gede. Hek, ungkap Alwi, diambil dari istilah Belanda yang berarti pagar. Di kawasan Hek pada era kolonial, terdapat sebuah pagar dengan bentuk runcing yang terbuat dari kayu bulat. "Pagar itu digunakan sebagai jalan keluar masuk kompleks peternakan sapi. Kawasan itu dulunya dikenal hasil peternakan, susu sapi segar untuk konsumsi orang-orang Belanda," jelasnya.

Hal serupa juga ada di Jakarta Barat, yaitu daerah bernama Rawa Buaya, Kampung Angke, Pesing, dan Kampung Ambon. Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, sebagaimana diceritakan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, 74, merupakan sebuah nama kampung di Pulau Luzon, Filipina. Luzon merupakan pulau terbesar di Filipina. Menurutnya, pada akhir abad ke-5, Nusantara, termasuk Jakarta, dibanjiri imigran asal Filipina. Pendatang Filipina dari Pulau Luzon bermukim di sana dan berbaur dengan penduduk asli kawasan pada masa itu. Sejak saat itu, kawasan tersebut dinamakan Rawa Buaya atau Marsh Buwaya dalam bahasa Filipina. Kisah seru ada di balik nama Kampung Angke.

Nama daerah itu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 dan sudah terdapat di Babad Banten pada 1662 dan juga Kitab Purwaka Caruban Nagari yang ditulis lagi pada 1720. Semua itu dapat menghubungkan antara masa Fadhillah (Fatahillah) dan Tubagus Angke. Ada dongeng yang mengisahkan Angke berasal dari bahasa Tiongkok. Dari kata ang berarti darah dan ke berarti bangkai. Itulah darah orang-orang Tiongkok yang dibantai kolonial Belanda pada 1740 dalam peristiwa yang disebut huru-hara Tionghoa. Sebelumnya, kampung itu bernama Kampung Bebek karena sebagian besar penduduknya beternak bebek.

Dahulu Kampung Angke merupakan persinggahan para pedagang dan tempat persembunyian orang Tiongkok pelarian pada peristiwa 1740. Pendatang Tiongkok bermukim di sana dan berbaur dengan penduduk Betawi. Orang-orang Tiongkok itulah yang merupakan penduduk mayoritas di Kampung Angke hingga kini. Nama Pesing, yang terletak di Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ialah sebuah pasar tradisional. Di sana juga terdapat rumah-rumah penduduk yang umumnya dihuni orang Betawi. Nama tempat itu terasa unik karena seolah-olah identik dengan bau pesing, bekas kencing manusia ataupun binatang. Seperti diceritakan Ridwan Saidi, asal nama tempat itu berasal dari nama jenis pohon.

Pesing bukan bau kencing, melainkan nama pohon kayu, yang mempunyai daun berbau seperti kencing. Pada masa lampau, di kawasan itu banyak terdapat pohon kayu yang baunya seperti bau kencing sehingga tempat itu dinamakan Pesing. Sampai sekarang kawasan Pesing masih ada, letaknya cukup strategis karena menghubungkan Jalan Raya Daan Mogot menuju Tangerang. Soal nama daerah yang unik itu, tidak semua warga setempat mengerti alasannya. Seperti nama Pesing, Media Indonesia yang mencoba cari tahu hanya mendapat jawaban 'katanya'. Anto, 50, warga sekitar menyebutkan dahulu di sana ada pangkalan dokar/delman. Saat menunggu penumpang, kuda penarik dokar sering kencing. Akibatnya, aroma pesing dari air kencing kuda itu menjadi identitas daerah itu hingga kini. Begitu pun nama daerah Hek, tidak banyak orang yang tahu."Baru tahu kalau itu pagar. Yang saya tahu Hek itu pertigaan," ujar Septradi, 26, warga sekitar sembari nyengir. (Nel/Sri/J-3)

Baca Juga

Medcom

Pelaku Pelecehan di Mal Di Bintaro Penderita Gangguan Jiwa

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:00 WIB
Pelaku tindakan asusila terhadap seorang anak di sebuah mal (pusat perbelanjaan) di kawasan Bintaro, merupakan pengidap gangguan jiwa alias...
Dok. Pribadi

Kasus Pemukulan, Andy Cahyady Pertanyakan Status Kuasa Hukum dan Penjamin Wenhai Guan

👤Rahmatul Fajri 🕔Senin 27 Juni 2022, 22:30 WIB
Andy mempertanyakan kapasitas Marna Ina sebagai advokat dalam kasus tersebut kepada Kejaksaan Tinggi DKI...
DOK.MI

Gadaikan Mobil Sewaan, Pasutri Diciduk Polisi

👤Rahmatul Fajri 🕔Senin 27 Juni 2022, 21:35 WIB
DA dan SJ awalnya menyewa mobil milik korban berinisial YMS. Mobil tersebut disewa untuk operasional proyek dengan tarif Rp500 ribu per...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya