Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Dengan CCTV, Ragunan-Dukuh Atas 2 Maksimal 50 Menit

Santa Cicilia Sinabariba
23/1/2019 17:51
Dengan CCTV, Ragunan-Dukuh Atas 2 Maksimal 50 Menit
(dok.mi)

RENCANA TransJakarta untuk menggunakan kamera pengawas atau CCTV di beberapa titik jalur TransJakarta yang rawan kemacetan memang masih dalam tahap kajian bersama dengan pihak Ditlantas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.

Namun, Direktur Operasional TransJakarta, Daud Joseph, optimistis dapat mempersingkat waktu tempuh bus TransJakarta jika CCTV dipasang, khususnya pada Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas 2), Koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit) dan Koridor 10 (Tanjung Priok-PGC 2).

Baca juga: Penderita DBD Meningkat, Pemprov DKI Tingkatkan Kewaspadaan

 Ia menyebutkan bahwa untuk Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas 2) dapat ditempuh dalam waktu maksimal 50 menit jika CCTV sudah dipasang. Lebih cepat 15 menit dari waktu tempuh biasa di jam padat kendaraan yakni 1 jam 5 menit.

"Estimasi saya di bawah 50 menit untuk jam 7 pagi dan jam padat kantor," kata Daud kepada Media Indonesia, Rabu (23/1).

Saat ditanya estimasi waktu yang akan terpotong di Koridor 9, Daud mengaku bahwa jalur tersebut merupakan jalur yang memiliki tingkat kemacetan yang kompleks. Sehingga ia belum dapat memastikan berapa waktu yang akan dihemat oleh TransJakarta jika CCTV dipasang.

Berdasarkan pengamatan dari Media Indonesia, Rabu (23/1) pagi dibutuhkan waktu 2 jam 9 menit dari halte Pinang Ranti sampai ke halte Pluit. Kemacetan utamanya terjadi saat melewati halte Tebet BUMD di jalan M.T. Haryono hingga ke halte Tegal Parang. Kemacetan disebabkan karena adanya pembangunan jalur MRT yang berakibat pada penyempitan jalan.

"Kalau Pinang Ranti-Pluit itu belum bisa saya tentukan, karena memang disana kemacetannya kompleks, dan tidak semua tempat bisa dipasangi separator," tambah Daud.

Sementara itu, terkait siapa yang akan memasang CCTV, Daud menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih mendiskusikan hal tersebut bersama dengan pihak terkait.

"Belum ada keputusan, kita dalam proses masih mempelajari. Nanti setelah pengkajian kami akan keluarkan hasilnya," tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan bahwa pemasangan CCTV tersebut akan berintegrasi dengan sistem dan server data yang sudah dimiliki Ditlantas Polda Metro Jaya.

"Pemasangan bisa di TJ. Hanya masih di eksplore, kalau konsepnya dari TJ berarti tanggung jawab data dan pengelolaannya di TJ. Kurang lebih konsentrasinya kepada pemanfaatannya, ini juga terkait dengan sharing datanya," jelas Sigit.

Sebelumnya, Daud menjelaskan bahwa rencana pemasangan CCTV ini bercermin kepada hasil sidang tilang elektronik yang dilakukan Ditlantas Polda Metro Jaya yang berhasil menurunkan pelanggar hingga 80% sejak pertama kali diberlakukan pada tanggal 1 November 2018 yang lalu.

Baca juga: Keluarga Akan Jemput Ahok Di Mako Brimob

Menurutnya, pemasangan CCTV nantinya akan lebih efektif karena dapat menghemat sumber daya manusia serta mempermudah proses penegakan hukum bagi aparat. Daud juga mengungkapkan bahwa setiap harinya terjadi 200 hingga 300 pelanggaran setiap harinya atau mencapai 9 ribu hingga 10 ribu pelanggaran setiap bulannya di jalur busway.

"Secara jumlah tentunya solusi buat kita. Karena efisien secara tenaga kerja dan efektif karena orang bisa langsung dipanggil dan ditindak. Dengan dipanggil mereka tidak bisa berkilah," tambahnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya