Jutaan ikan yang mati mendadak pada 30 September di Ancol bukan ancaman serius. Kejadian itu tidak mengganggu stok ikan untuk warga Jakarta. Sebab, pasokan ikan bukan hanya dari perairan teluk Jakarta.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) DKI Jakarta Darjamuni mengatakan, pasokan ikan untuk wilayah DKI Jakarta aman. Menurutnya, berdasarkan laporan pengelola pantai Ancol, ikan yang mati hanya sekitar lima kwintal.
"Pasokan ikan aman. Kebutuhan kita (warga Jakarta) sekitar 40 sampai 50 ton sehari," kata Darjamuni, Rabu (2/12).
Darjamuni menuturkan, kasus matinya ikan ini belum menjadi ancaman serius. Sebab, pasokan ikan bukan hanya diambil dari perairan Ancol. "Tahun 2013 juga pernah terjadi di Ancol. Waktunya juga sama, disaat peralihan cuaca. Kasus ini hanya faktor alam saja," tuturnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyebut ikan tersebut aman untuk dimakan. "LIPI (hasil penelitian) sebuat bukan karena racun limbah, aman dikonsumsi," kata Ahok.
Ahok membeberkan, hasil penelitian menyebut jutaan ikan mati bukan karena racun. Namun, karena ikan-ikan tersebut kekurangan oksigen di dalam air. Dia meminta, warga tak panik.
Kadar oksigen habis karena jumlah plankton yang bertambah melebihi batas normal. Sehingga, ikan tersebut masih bisa dimakan dengan catatan ikan masih segar. "Asal segar saja ikannya, karena ikannya cuma kecekik saja kehabisan napas," kata Ahok.
Sulit diketahui
Lebih lanjut Darjamuni mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membawa kasus pencemaran Pantai Ancol itu ke ranah hukum.
Saat ini Pemprov DKI masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan laboratorium internal dan bantuan penelitian dari IPB serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Harus melihat dulu hasilnya. Saya tidak bisa menduga kasus ini penyebab pastinya apa,†kata Darjamuni.
Darjamuni mengatakan, pihaknya akan koordinasi dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI untuk menelusuri perusahaan yang membuang limbah tidak sesuai prosedur di perairan Jakarta. "Kalau terbukti bisa kita tindak, tapi kita harus lihat pencemaran itu dari mana asalnya. Akan kami cari kalau memang kasusnya pencemaran," ujarnya.
Darjamumi mengakui, mencari pencemar laut Jakarta sangat sulit karena kawasan perairan Ancol terbuka untuk umum. Selain itu, jumlah perusahaan yang berdiri di 13 sungai sangat banyak.
Darjamuni tidak mau menduga-duga penyebab matinya jutaan ikan. Pihaknya baru bisa menduga penyebabnya dari hasil analisa sementara. Ada tiga penyebab kemungkinan ikan-ikan tersebut mati.
"Kemungkinan pertama itu karena cuaca ekstrem. Ada perubahan suhu ekstrem di bawah dan di atas laut," kata Darjamuni.
Kemungkinan kedua, terjadi pertumbuhan alga dalam jumlah besar di dalam laut. Darjamuni memperkirakan, ikan menjadi kekurangan oksigen dengan adanya alga. "Alga yang sangat banyak berebut oksigen, ikan kalah dan mati," jelasnya.
Kemungkinan ketiga adalah adanya pencemaran air di laut. Habitat ikan sudah dipenuhi limbah sehingga ikan mati.
Menurut Darjamuni, kasus di perairan Ancol ini sangat khas. "Kalau pencemaran dari beberapa sungai, pasti ikan mati bukan hanya di Ancol, tetapi juga di muara sungai lain," ujarnya. (Q-1)