Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Sampah Menumpuk di Kota Peraih Adipura

Kisar Rajaguguk
04/6/2018 16:55
Sampah Menumpuk di Kota Peraih Adipura
(MI/ BARY FATHAHILAH*)

TUMPUKAN sampah berserakan di tepian sungai sebelah Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok. Sampah itu dibiarkan begitu saja. Dinas LHK yang menangani masalah kebersihan di kota yang baru meraih Adipura Metropolitan 2017 tersebut seolah-olah tidak mampu menangani persoalan sampah di daerah ini.

Seorang warga yang mengaku pecinta alam bernama Roberto, yang sering melewati Kantor Dinas LHK, Jalan Raya Bogor Kilometer 37 Kelurahan Sukamaju baru, Kecamatan Tapos menyatakan prihatin melihat kondisi sampah yang menumpuk di belakang gedung pemerintah daerah.

“Sampah-sampah yang berserakan di sungai akan makin mendangkal. Bila tidak ditangani segera akan membahayakan karena sungai semakin dikubur limbah,” ujarnya, Senin (4/5).

Ia mengaku tidak habis pikir sampah berserakan di lingkungan kantor pemerintah daerah yang membidangi masalah lingkungan dan kebersihan.  "Ini sungguh perbuatan yang tidak memahami lingkungan. Karena tumpukan sampah bisa menimbulkan bau yang tidak sedap terlebih bencana alam seperti banjir, “ ujarnya.

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Cipayung, Kota Depok, saat ini pun terlihat memprihatinkan. TPA yang menampung 750 ton sampah warga perhari tidak dikelola dengan baik.

Tumpukan sampah yang menggunung disana menyebabkan pendangkalan kali TPA Cipayung. Akibatnya, warga kerap mengalami kebanjiran jika air sungai meluap.

“Meski nggak hujan tetap banjir karena tertimbun sampah TPA Cipayung,“ papar Airlangga.

Airlangga yang mengaku aktivis lingkungan menambahkan tumpukan sampah tidak hanya dijumpai di jalan-jalan melainkan di hampir seluruh situ atau danau yang ada di Kota Depok.

Ia memberikan contoh Situ Pengarengan yang terletak di bawah jembatan Jalan Insinyur Haji Juanda, Kelurahan Cisalak, Sukma Jaya banyak timbunan sampah seperti gulma, tanamanan pohon, bungkus makanan, dan botol plastik.

”Tidak ada lagi suasana alam yang sejuk karena ditumbuhi banyak sampah,“ cetusnya, Senin (4/6).

Airlangga mengaku warga sekitar terlebih pemobil dan pemotor resah dengan timbunan sampah sekitar Setu Pengarengan. Lingkungan yang dulunya hijau kini kotor, bahkan seperti tempat pembuangan akhir sampah (TPA). "Selain jorok, air situ di sana kini hitam," gerutu Airlangga.

Uniknya, Kepala Dinas LHK Kota Depok Etty Suryahati mengaku tidak tahu kalau di sekitar kantornya ada tumpukan sampah. “Tumpukan sampah di mana ya? “ kilah Mantan Sekretaris Daerah Kota Depok itu ketika berbicara lewat ponsel dengan Media Indonesia, Senin (4/6).

Etty juga tidak mengetahui bahwa ada seoranga warga Kelurahan Pasir Putih, Sawangan, meninggal tertimbun sampah. Usman, 50,  hanyut dan akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal tertimbun tumpukan sampah.

Ia sepertinya menganggap sesuatu hal lazim terhadap sampah menumpuk di Kota Depok yang baru setahun lalu mendapat penghargaan Adipura dari pemerintah pusat tersebut. “Sudah dulu ya, saya lagi dinas luar kota (DLK) ke Bandung saya lagi di mobil,“ singkatnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Tempat Pembuangan Akhir Sampah ((UPT TPA) Cipayung, Kota Depok, Ardan Kurniawan mengakui terjadi pendangkalan aliran air di TPA. Namun, pendangkalan tersebut terjadi bukan semata disebabkan tumpukan sampah di TPA Cipayung.

Sampah yang ada disebutnya juga sampah bawaan dari Bogor. Hal itu mengingat Kali Pesanggrahan mengalir dari Bogor. “Terjadinya pendangkalan bukan hanya dari TPA Cipayung tapi ada sampah kiriman dari Bogor juga,” kilahnya.

Untuk mengatasi masalah pendangkalan tersebut, sambung Ardan, pihaknya bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai Ciliwung- Cisadane (BWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia untuk melakukan normalisasi.  

"Kami akan bekerja sama menormalisasi kawasan TPA Cipayung dengan BWSCC Kementerian Pekerjaan Umum RI, “ ungkapnya.

Ardan mengaku TPA Cipayung sudah kelebihan beban sampah sehingga diperlukan penanganan segera. “Ini yang sedang kami lakukan kajiannya. Teknologi seperti apa yang nanti akan digunakan. Tentunya yang ramah lingkungan yang diinginkan,” sebutnya. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya