Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sungguh Sulit Berdagang Tanpa Listrik di Terminal Pulogebang

Yanurisa Ananta
22/5/2018 19:09
Sungguh Sulit Berdagang Tanpa Listrik di Terminal Pulogebang
Sejumlah pemilik kios di Terminal Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, mengaku kesulitan saat berdagang bergelap-gelapan di dalam kios, Selasa, (22/5)(MI/Yanurisa Ananta)

Sejumlah pedagang di Terminal Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, mengeluhkan keterbatasan listrik di kios-kios mereka. Alhasil, pedagang makanan dan minuman tidak bisa berjualan minuman dingin langsung dari kulkas. Kesulitan itu, diakui pedagang, mereka alami sejak pengelolaan kios-kios di Terminal Tipe A tersebut tidak lagi dipegang PD Pasar Jaya.

“Dulu pengelolanya Pasar Jaya. Per 31 Januari lalu masa pengelolaan Pasar Jaya sudah berhenti. Saya tidak tahu siapa pembinanya (sekarang). Mungkin Dinas Perhubungan (Dishub). Pedagangnya tidak ada pembinanya. Ya gini saja jadi gelap-gelapan, enggak bisa jualan minuman dingin,” ujar Ratih, 40, seorang pedagang makanan ringan di Lantai Dasar Terminal Pulo Gebang, Selasa (22/5).

Berdasarkan pantauan Media Indonesia, kondisi kios-kios di Terminal Pulo Gebang masih sama seperti setahun yang lalu, saat pertama kali diresmikan. Kios-kios berukuran sekitar 8x7 meter itu kebanyakan tidak terisi pedagang. Dindingnya pun masih kasar tanpa dicat dan gelap.

Kalaupun ada pedagang, pedagang memilih menjajakan dagangan mereka di luar kios. Terutama pedagang sepatu atau sandal. Pedagang berpikir bila dagangan ditaruh di dalam kios tidak akan ada pembeli yang mampir karena kondisinya gelap.

“Kecuali, pedagang makanan. Makanan harus ada di dalam kios. Tapi ya gitu gelap-gelapan. Pakai lilin enggak boleh karena takut kebakaran. Aliran listriknya dicopot,” kata Ratih.

Aktivitas penumpang di Terminal Pulo Gebang mulai menggeliat. Tampak beberapa penumpang masuk dan menaiki lantai mezanin di mana Perusahaan Operator (PO) menjual tiket. Ratih menambahkan, menjelang lebaran biasanya pengunjung akan lebih banyak. Omzet bisa mencapai Rp5 juta.

“Di hari-hari biasa saja omzet sebulan bisa mencapai Rp2 juta. Artinya, memang di sini prospektif untuk berjualan. Tapi fasilitasnya kurang. Listrik susah, sampah buang sendiri,” katanya.

Ratih merupakan pedagang Pasar Kramat Jati binaan PD Pasar Jaya yang memutuskan untuk berdagang di Terminal Pulo Gebang. Di tahun pertamanya, Ratih dibebaskan dari biaya lapak, listrik dan retribusi.

Raya Hutajulu, 55, salah seorang pedagang minuman di Terminal Pulo Gebang mengatakan, penumpang semakin sepi. Hal itu disebabkan terminal bayangan semakin menjamur di seluruh wilayah Kota Jakarta. “Makin banyak lagi itu terminal bayangan. Makin sepi kita pedagang di sini,” ujarnya.

Unit Pengelola Teknis (UPT) Terminal Pulo Gebang Ismanto mengkonfirmasi, seiring dengan peralihan pengelolaan, sarana dan prasarana untuk kios-kios tersebut sedang digodok bersama PLN. “Sedang dikomunikasikan pola pembiayannya dan mekanismenya terkait penggunaan biaya listrik untuk kios-kios tersebut,” pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya