Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bekasi Masih jadi Sasaran PMKS Musiman

Gana Buana
22/5/2018 17:32
Bekasi Masih jadi Sasaran PMKS Musiman
(Dok. MI)

KOTA Bekasi yang berbatasan dengan Ibu Kota DKI Jakarta dan perekonomian yang tengah meningkat pesat, dinilai amat menarik para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)  Bekasi menangkap delapan PMKS, Selasa (21/5) siang, saat mereka tengah mengemis dan mengamen di ruas jalan protokol di kota tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Bekasi Cecep Suherlan menjelaskan, delapan PMKS tersebut mengaku terpaksa mengais rejeki lewat mengemis dan mengamen lantaran kebutuhan ekonomi.

Mereka yang ditangkap yakni kaum perempuan dan para kaum lanjut usia (lansia). "Anak-anak yang sedang mengamen juga kami tangkap,” ungkap Cecep, Selasa (22/5).

Menurut Cecep, mereka ditangkap lantaran mengemis di sejumlah jalan protokol seperti di Jalan Ahmad Yani, Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Sultan Agung, Jalan Sudirman dan Cut Mutia.

“Intensitas pengendara di ruas jalan tersebut cukup tinggi. Amat berbahaya,” kata dia.

Oleh petugas, kata dia, delapan orang itu dibawa ke rumah singgah di Bulak Kapal, Bekasi Timur, Kota Bekasi. Mereka didata dan diberi pembinaan selama beberapa hari di sana agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

“PMKS yang kita amankan tidak hanya berasal dari Kota Bekasi, tapi ada juga yang dari Karawang, Jawa Tengah dan Lampung,” tandas dia.
Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi mengatakan daya tarik Bekasi begitu besar bagi para PMKS dari luar daerah. Mereka memanfaatkan peluang kemajuan kota itu untuk mencari belas kasihan warga.

"Mereka biasanya datang pada malam hari. Strategi ini untuk menghindari razia para petugas. Biasanya saat itu, pengawasan petugas terhadap para gepeng cukup lemah. Makanya sekarang kami intesifkan pengawasan dengan dibantu Satpol PP Kota Bekasi," ungkap Junaedi, Selasa (22/5).

Berdasarkan data yang diperoleh dinas, jumlah PMKS yang terdata pada akhir 2016 mencapai 30.428 orang. Jumlah itu terus meningkat hingga akhir 2017 mencapai 70.303 orang.

Mereka yang tertangkap akhirnya diberi pembinaan dan dipulang ke daerah asal. Mereka berasal dari tiga provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya