Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Di Tengah Bulan Puasa, Peredaran Miras Depok Masih Marak

Kisar Rajaguguk
20/5/2018 15:17
Di Tengah Bulan Puasa, Peredaran Miras Depok Masih Marak
(Dok. MI)

DI tengah warga yang fokus beribadah di bulan Ramadan, peredaran minuman keras (miras) di Kota Depok kian meresahkan. Dalam operasi senyap Ramadan, Minggu (20/5), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok menyita 242 miras berbagai merk.

Miras tersebut berkadar alkohol 25-40 % disita saat menggeledah toko dan lapak jamu. Kasatpol PP Kota Depok Yayan Arianto mengatakan di pinggiran kota lebih banyak penjual minuman beralkohol.

Sebagian besar, penjual miras hengkang ke pinggir kota dari jalan negara, provinsi, agar tidak tercium petugas. Seperti di dekat Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Kelurahan Ratu Jaya, di Jalan Raya Citayam, Kelurahan Pondok Jaya, di Kompleks Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cilodong.

Selain itu ada pula Pub dan Lapo tuak Jalan Nangka Km.37, Kelurahan Sukamaju baru, serta Jalan Pipa Gas Negara Kelurahan Curug, Cimanggis. Dari salah satu toko didapat satu drum besar berisi ratusan liter ciu untuk dioplos ke tuak, brandi, bir, vodca, dan anggur.

Ia berencana bertemu dengan lurah dan camat untuk menegur dan memberi sanksi tegas terhadap para penjual miras itu. “Penjual miras perlu diambil tindakan tegas karena sudah mengganggu warga menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan," ujarnya.

Operasi senyap selama bulan Ramadhan terus digencarkan dimulai dari pukul 00.00 WIB hingga pagi hari dengan sasaran peredaran miras. “Selama bulan Ramadhan kita menginginkan Kota Depok bersih dari peredaran miras serta tidak melanggar Perda Ketertiban Umum Kota Depok Nomor: 16/2012, “ ucapnya.

Sekretaris Daerah Kota Depok Tipe A Hardiono mengatakan pergaulan yang bebas menjadi pemicu maraknya minuman keras. Pengonsumsinya baik dari orang dewasa, pelajar dan anak usia sekolah. “Minuman keras beredarnya di pinggiran kota dan penggunanya merupakan usia produktif, sekitar 17-30 tahun. Korbannya sudah sangat banyak," katanya.

"Mereka merasa diakui keberadaannya ketika mengonsumsi minuman tersebut. Kondisi ini memprihatinkan. Karena, banyak anak muda yang terjerumus ke sana. Mereka merasa ketinggalan zaman kalau tak ikut tenggak minuman alkohol, ” sambungnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya