Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Bongkar Pembatas Simpang Mampang Prapatan, Warga: Tolak, Kebijakan ini Nggak Bener!

Yanurisa Ananta
20/5/2018 14:40
Bongkar Pembatas Simpang Mampang Prapatan, Warga: Tolak, Kebijakan ini Nggak Bener!
(ANTARA/Galih Pradipta)

SEJUMLAH warga Kawasan Mampang Prapatan memprotes kebijakan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memasang beton pembatas atau movement concrete barrier (MCB) di tiga persimpangan Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Warga mengaku aksi pembongkaran MCB dilakukan karena dengan adanya pembatas itu harus berputar terlalu jauh.

“Enggak adil kalau ditutup sepenuhnya gitu. Soalnya itu tuh kayak akses penting gitu yang saya rasa selama hidup di Mampang. Lagian kenapa harus ditutup gitu deh, kebijakan aneh banget,” kata Ady Prawira, 29, warga Mampang VIII, Minggu (20/5).

Ketiga perempatan yang ditutup itu yakni, simpang Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Mampang Prapatan 7-Jalan Mampang Prapatan 8, Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Tiga Raya-Jalan Kemang Utara 9, dan Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Bangka-Jalan Duren Tiga Selatan.

Jika beton dipasang, warga harus berputar di titik Jalan Warung Jati Barat, dekat RS Royal Health Care. Jarak antara simpang Jalan Mampang Prapatan Raya- Jalan Mampang Prapatan 7-Jalan Mampang Prapatan 8 ke ke titik putar balik itu 2,3 km.

Sementara, jarak Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Tiga Raya-Jalan Kemang Utara 9 ke titik putar balik 1,4 km dan 750 meter dari Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Bangka-Jalan Duren Tiga Selatan.

“Apalagi kalau pagi sampai jam 8 macet. Sementara, sejak adanya underpass Mampang jadinya malah lebih parah macetnya. Bukan mengurai kemacetan, tapi menunda kemacetan jadi lebih jauh aja,” ujarnya.

Akhirnya, beton pembatas yang dihancurkan warga Sabtu (19/5) kemarin. Bekas belon itu masih ada di sekitar simpang. Sekitar 20 beton pembatas itu ditulis dengan cat semprot berwarna-warni dengan tulisan, ‘Tolak’, ‘Protes’, dan ‘Gabener’. Seluruh beton ditutupi kain spanduk sosialisasi penutupan tiga simpang Mampang Prapatan.

Di Simpang Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Mampang Prapatan 7-Jalan Mampang Prapatan 8, beton berada di atas pembatas jalan. Di Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Tiga Raya-Jalan Kemang Utara 9, beton pembatas masih terpasang seperempat jalan. Sementara, di Jalan Mampang Prapatan Raya-Jalan Duren Bangka-Jalan Duren Tiga Selatan, beton pembatas tergeletak di jalan dengan posisi tertidur.

Menurut Adi, persoalan kemacetan di Mampang dikarenakan lampu lalu lintas yang tidak berfungsi dengan sinkron satu sama lain. Sehingga, penumpukan kendaraan terjadi di satu titik dan menyebabkan kemacetan.

“Masa ketika lampu lalin di Jalan Bangka hijau, lampu lalin di Mampang VIII juga hijau? Coba satu per satu pasti ya enggak bakal keadu kendaraannya. Jadi chaos di tengah, kadang mau nabrak,” paparnya.

Lampu lalin di simpang-simpang Mampang, menurut Ady, tidak banyak menyelesaikan masalah. Terlebih keberadaan underpass Matraman tidak mampu mengurai kemacetan. Justru kemacetan bertambah parah. Kemacetan hanya berpindah titik.

“Misalnya kalo berangkat kerja saya kena macet di lampu merah Kuningan Barat, sekarang memang enggak ada lagi tapi macet di Kemenkes sampai KPK justru numpuk mobil.” pungkas Adi. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya