Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
TERGIUR harga telur ayam yang lebih murah, sebanyak 14 warga Jabodetabek merugi hingga miliaran rupiah. Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Bogor Kota berhasil mengungkap kasus penipuan dan penggelapan bermodus bisnis atau investasi telur ayam, Rabu (25/4).
SP, seorang perempuan dengan usia sekitar 35-an ditangkap dan kini ditahan di Mapolresta Bogor Kota. Barang bukti yang disita polisi berupa kuitansi pembayaran, kuitansi pengambilan, rekap pengiriman telur.
"Pasal yang kita kenakan pasal 372, 378, 379a. Termasuk kita akan kejar aset hasil dari tersangka," ujar Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Didik Purwanto
Hingga saat ini korbannya ada 14 orang, dengan total kerugian dari 14 orang ini sekitar Rp 7,9 miliar. Seluruh korban profesinya pedagang dan suplier. "Hasil penelusuran kami, korban ada yang dari Depok, Bekasi, Jabodetabek-lah," katanya.
Menurut Didik, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya dua LP (laporan) dari warga Bogor Kota. Lapaoran pertama datang dari Imam Suroso pada akhir Desember 2017 dan laporan kedua dari Surya Maulana pada awal bulan Januari lalu.
Keduanya merasa telah ditipu oleh SP. Surya mengalami kerugian Rp 625 juta dan Imam Suroso Rp 115 juta. Tersangka SP, kata kasat, menawarkan investasi jualan telur kepada korban Surya, sebesar Rp 400 juta dengan margin Rp 4,2 miliar lebih dan sudah berjalan 6 bulan. Kemudian usaha tersangka kolaps.
Kemudian Surya membeli lagi Rp 225 juta sebanyak 700 ikat telur. Namun baru dikirim 50 ikat, sisanya tidak dikirimkan. Diketahui bahwa uang sebesar Rp 225 itu tidak disetor untuk pembelian telur. Namun digunakan oleh tersangka untuk membayar hutang kepada suplayer dan untuk muka rumah.
Tersangka, lanjutnya, menarik calon korbannya dengan cara mengatakan bahwa dirinya mempunyai bisnis catering dan suplay telur.
"Modus operandinya, dia menjadi seorang suplier ayam. Tersangka membeli dari suplier dengan harga normal, kemudian kepada distributor menjualnya dengan nilai di bawah harga pasar. Sehingga di sinilah memberikan atau menimbulkan ketertarikan distributor," ungkap Kasat, saat rilis di Mapolresta Kedung Halang, Rabu (25/4).
Tersangka menjual telur perikat Rp 285 ribu, seberat 15 kg dan 1 kg dijual seharga Rp 21 ribu. Harga tersebut di bawah harga pasaran. "Harga atau nilai yang diambilnya adalah sekitar Rp 22 ribu, kemudian dia jual kembali Rp 21 ribu. Sepertinya dia jual rugi," katanya.
Kepada suplier, tersangka hanya membayar sebagian. Kemudian kepada pihak diatributor, dia memberikan janji bahwa apabila akan membeli lebih banyak lagi, maka harus inves dulu.
"Beberapa korban sudah kita mintai keterangan. Diantaranya ada yg sudah menyetorkan ratusan juta. Bahkan sudah ada yang menyetor Rp 1,5 miliar,"katanya.
Dengan nilai atau harga telur yang murah di bawah pasar ini, otomatis dari satu distributor yang dia kenal menyambung ke distributor yang lain. "Jadi dari mulut ke mulut. Akhirnya banyak yang meminta ke dia. Dan dia menyampaikan punya stok banyak. Tapi kalau mau memiliki atau mau beli dari saya, korban harus inden, inves dulu," katanya.
Para korban yakni Surya Maulana dengan kerugian Rp 625 juta, Imam Suroso dengan Rp 115 juta, Robin dengan Rp. 1, 2 milar, Farhan Rp 125 juta, Ade Ikhsanudin Rp 202 juta, Doly Rp 1,4 milar, Reza Rp 2,5 miliar, Linjah dengab Rp 545 juta, Kukuh Rp 545 juta, Lili Rp 545 juta, Iriani Rp 95 juta, Nico Rp 115 juta, Maulana Rp. 445 juta dan Ronald Simbolon Rp 56 juta. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved