Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BAU asap masih menyeruak di kawasan permukiman padat penduduk di Jalan Talib II dan Jalan Talib III, Krukut, Tamansari, Jakarta Barat, Sabtu siang (27/1). Hawa panas masih terasa dari tembok-tembok rumah yang dilahap si jago merah dini hari tadi saat warga tengah lelap tertidur. Hingga sore hari, kepulan asap pun masih terlihat di beberapa titik di lokasi kebakaran.
Sejatinya, kebakaran sudah padam sejak pukul 05.30 WIB. Siang harinya, warga masih sibuk berlalu lalang untuk sekadar melihat lokasi kejadian atau membantu tetangga.
Beberapa di antara korban sudah menempati posko-posko pengungsian dari Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI, dan Posko Dinas Sosial yang terbangun tepat di pinggir kali Krukut. Wajah-wajah korban tampak lelah dan tak jarang mereka menangis di pelukan tetangga.
"Habis semua. Motor saya kebakar juga. Hanya baju yang saya pakai saja. Anggota keluarga saya selamat, cuma orok saja cucu saya baru lahir saya amankan buru-buru," imbuh seorang warga di salah satu posko penampungan kebakaran tak jauh dari lokasi kebakaran, Sabtu (27/1).
Setidaknya kebakaran ini telah menghanguskan 286 bangunan di 10 Rukun Tetangga (RT). Dampaknya 1.327 warga harus mengungsi. Bahkan, dari jumlah tersebut 386 di antaranya merupakan anak-anak.
Warga menyebut kobaran api semula sulit dipadamkan meski mobil pemadam kebakaran sudah tiba. Pasalnya, jalan lingkungan warga tidak cukup dilewati mobil pemadam kebakaran akibat banyaknya motor dan mobil yang terparkir.
Abdul Baset, 40, salah satu warga yang rumahnya tidak terbakar mengaku dirinya sedang tidur saat teriakan 'kebakaran!' terdengar. Ia pun mengevakuasi diri dengan membawa barang-barang yang bisa diselamatkan sebisanya. Tak lama berselang, api mulai merembet ke rumah di samping rumah Abdul dengan cepat akibat terbawa angin.
"Saat itu saya sudah pasrah. Saya serahkan semua kepada Allah. Kalau memang Allah mau ambil, ambil. Kalau masih bisa dilindungi saya mohon kepada Allah," katanya.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia, kebakaran terparah terjadi di RT 11 di mana api mulanya berasal. Bangunan rumah yang rata-rata berukuran 3x6 meter persegi hangus terbakar.
Tidak ada lagi barang-barang yang bisa dipakai ulang. Ketika melangkahkan kaki ke gang-gang tersebut jalan dipenuhi kabel terbakar, seng, dan kayu-kayu yang berubah jadi arang.
Meski sudah terbakar, sejumlah warga pun masih terdiam di depan puing-puing rumahnya. Mereka masih meratapi nasib karena tidak ada yang tersisa selain baju yang mereka pakai.
Beberapa di antaranya juga dijenguk oleh sanak saudaranya. "Itu kamar saya, yang itu kamar anak saya. Sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi. Saya di sini saja. Mau bagaimana lagi?" kata seorang warga yang matanya sembab akibat menangis.
Saat ini, penyebab kebakaran masih diselidiki oleh tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri. Warga menduga nyala api pertama kali berasal dari salah satu rumah di RT 11.
Santer dibicarakan warga, api berasal dari kasur yang dibakar di lantai dua rumah. "Ada dugaan sengaja dibakar. Jadi mungkin dia cek cok sama keluarganya. Emang orang ini agak sedikit stress. Namanya Soni," tutur Abdul Baset.
Wakapolsek Metro Tamansari, Kompol Teguh Nugroho mengatakan, saat ini pihaknya telah mengamankan seorang warga bernama Soni (35) yang diduga rumahnya menjadi titik awal api mulai muncul sebelum merembet ke rumah warga lainnya.
“Rumah warga itu ditinggali saudara Soni, ibu dan adiknya Soni, kami bawa ke Polres Metro Jakarta Barat untuk menjalani pemeriksaan. Ada saksi lain dari warga sekitar juga kami mintai keterangan,” kata Teguh saat ditemui lokasi kebakaran, Sabtu (27/1).
“Untuk mengetahui penyebab kebakaran nanti kami menunggu hasil dari tim labfor Mabes Polri,” kata Teguh.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didampingi Walikota Jakarta Barat Anas Efendi turut menyambangi lokasi kebakaran. Anies mengatakan, lokasi kebakaran memang tempat yang padat penduduk. Berdasarkan pantauannya ada rumah berukuran 3x4 meter persegi yang dihuni oleh enam orang.
"Untuk penataan ke depannya akan kita lihat lagi. Kita harus lihat satus tanah, surat kepemilikannya tentu. Kalau sudah, kita jadikan ini permukiman yang aman yang bebas dari potensi-potensi kebakaran," tuturnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, lanjut Anies, sudah sediakan tenda-tenda pengungsian melalui Walikota Jakarta Barat. Makanan untuk warga nantinya akan dimasak di kantor walikota untuk diantar ke lokasi pengungsian.
"Yang paling dibutuhkan saat ini itu untuk anak-anak yaitu seragam, alat tulis dan buku-buku. Juga pampers, makanan bayi, vitamin, pakaian dalam dan pakaian pada umumnya.
Sejumlah warga secara swadaya juga menggelar dapur umum. Kotak-kotak sumbangan tersebar di beberapa titik. Beberapa lapak baju gratis juga dibuka sebagai upaya membantu warga yang tengah dilanda musibah.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved