Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
MENDIKBUD Muhadjir Effendy marah dengan terulangnya peristiwa gladiator. Ia mengultimatum kepala sekolah dan guru di wilayah Bogor agar serius memperhatikan siswa. Muhadjir tidak ingin terulang lagi kasus kekerasan siswa yang sampai merenggut korban jiwa.
"Saya kira ada masalah di Bogor. Kasus siswa meninggal akibat kekerasan dan perkelahian bukan yang pertama. Saya mohon kepala sekolah dan guru lebih memperhatikan siswa, jangan ada lagi korban sia-sia," tandas Muhadjir Effendy, kemarin siang.
Muhadjir didampingi Direktur Pembinaan SMP Kemendikbud Supriano menggelar pertemuan dengan kepala sekolah dan guru se-Kabupaten Bogor di Yayasan Pendidikan Al Madina, Bogor, Jawa Barat. Hadir dalam acara itu Bupati Bogor Nurhayati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Luthfie Sam.
Muhadjir mengingatkan kepala sekolah ialah manajer dan otak sekolah. Ia meminta jalankan tugas dan amanah dengan baik. Kendati siswa telah beraktivitas di luar sekolah, pihak sekolah tidak dapat lepas tangan begitu saja.
"Saya tidak mau lagi terjadi kasus kekerasan seperti ini. Jadikan peristiwa ini yang terakhir. Jika masih terjadi lagi, saya akan minta tanggung jawab sekolah karena terlalu mahal akibatnya. Jangan khawatir dalam mendisiplinkan siswa serta jangan takut dilapori," tegasnya.
Lebih lanjut Muhadjir menambahkan, berdasarkan PP No 19 Tahun 2017 tentang Guru, diatur guru berada di sekolah 8 jam dan selama lima hari. Dengan begitu, posisi guru terutama yang PNS memiliki beban sama dengan aparatur sipil negara. "Artinya guru tidak boleh santai lagi dan melalui penguatan pendidikan karakter, guru harus sering bersama dengan siswanya," cetusnya.
Setelah membekali kepala sekolah dan guru se-Bogor, Mendikbud menjenguk siswa SMP pelaku duel maut di Polres Bogor. Dia berbicara dengan pelaku dalam ruang tertutup.
Pengawasan
Secara terpisah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan kasus tarung ala gladiator di Jawa Barat sudah terjadi tiga kali, yakni di Kota Bogor, Sukabumi, dan Kabupaten Bogor (lihat grafis).
Berdasarkan kasus-kasus tersebut, KPAI bersama Kemendikbud memutuskan melakukan investigasi pada 28 November 2017. Komisioner KPAI Retno Listiyarti menguraikan saat menggali keterangan dari sekolah, terungkap korban sebenarnya berinisial MRS (bukan ARS).
MRS ialah pribadi yang pendiam dan alim, tetapi sangat penolong. MRS ketua kelas 9B. Banyak rekannya di sekolah menangis ketika mengetahui MRS tewas secara tragis.
MRS, menurut keluarganya, anak yang baik dan pandai mengaji, bahkan mengajari anak-anak sekitar tempat tinggalnya baca-tulis Quran. Karena pandai mengaji, teman-teman menyangka dia menguasai ilmu kebal, padahal tidak. Itulah yang membuat korban dilibatkan dalam tarung tersebut.
Kalangan masyarakat setempat masih memercayai ilmu kekebalan tubuh karena secara geografis Rumpin berbatasan langsung dengan Banten. Sewaktu menjabat Kepala SMAN 3, Retno pernah menangani kasus kekerasan siswa dan yakin skenario tarung gladiator berasal dari para senior. (Bay/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved