Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kereta Apiku, Jadi... tidak... Jadi... Tidak

Yanurisa Ananta
23/11/2017 12:05
Kereta Apiku, Jadi... tidak... Jadi... Tidak
(Klik gambar untuk memperbesar)

MASYARAKAT sempat bungah saat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menargetkan pembangunan jalur kereta commuter line menuju Bandara Soekarno-Hatta beroperasi awal 2014.

Sayang hingga dua periode kepemimpinannya, janji itu tidak terwujud.

Kali ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Edi Sukmoro, era Presiden Jokowi, menargetkan kereta api bandara beroperasi akhir November 2017.

Tampaknya, target mereka bakal meleset lagi. Akhir November ini sarana dan prasarana KA bandara, seperti jalur rel dan aliran listrik atas, baru akan diuji coba.

Setelah itu dinilai laik operasi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menerbitkan sertifikat yang mengukuhkan operasional KA bandara.

"Uji coba KA bandara akan dilaksanakan 25-30 November 2017. Kita akan cek sarana dan prasarana terlebih dulu untuk kemudian siap launching media di awal Desember," kata Vice President Corporate Communication PT KAI Agus Komarudin kepada Media Indonesia, kemarin.

Uji coba tersebut belum menggunakan trainset yang disiapkan untuk operasional KA bandara, tapi kereta milik Bandara Soekarno-Hatta.

Hal itu, ungkap Agus, bertujuan menguji ketahanan jalur rel dan listrik aliran atas yang baru terpasang 70%. Tiang listrik sudah terpasang dan terkoneksi ke PLN secara paralel.

Setelah lima hari uji coba, dibutuhkan sertifikat layak dari Kemenhub. Diprediksi, sertifikat akan dikantongi awal hingga pertengahan Desember.

"Harus uji internal untuk dapat sertifikasi dari Kemenhub. Kalau Kemenhub tidak izinkan, bagaimana? Mudah-mudahan di awal sampai pertengahan Desember sudah ada sertifikatnya," harap Agus.

Minim kendala

Terkait dengan persiapan infrastruktur dan sarana KA bandara, Agus memastikan saat ini tidak ada masalah berarti. Sejak 2016, pembebasan lahan sudah beres.

Begitu juga dengan jalur rel ganda sepanjang 36,4 km sudah terpasang seluruhnya.

"Kendala teknis di lapangan saja, seperti pemasangan rel di jalur jembatan yang melintasi Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, itu agak repot sedikit," ungkap Agus.

Di titik itu, jelas Agus, ada tanah setebal 8 meter di sepanjang 250 meter jalan yang harus diuruk sebelum pemasangan rel.

Pekerja harus memadatkan urukan dengan menggunakan ballast (pemberat) supaya rel tersambung dengan presisi dan padat.

"Kita kerja 24 jam. Kemarin malam baru selesai pekerjaan urukan 8 meter di sepanjang 250 meter di jembatan yang melewati Jalan Daan Mogot. Namun, semuanya sudah tersambung," jelas Agus.

Pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta ini merupakan realisasi dari penugasan kepada PT KAI sebagaimana tertuang dalam Perpres No 83 Tahun 2011 tentang Penugasan kepada PT KAI untuk Menyelenggarakan Prasarana dan Sarana Kereta Api Bandar Udara Soekarno-Hatta dan Jalur Lingkar Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.

Angkasa Pura II yang diberi tugas membangun stasiun di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, mengaku siap. Infrastruktur stasiun sudah selesai dan hanya harus mengisi tenant di dalam area stasiun.

Pengisian tenant pun menjadi tanggung jawab PT Railink, anak usaha PT Angkasa Pura II dan PT KAI.

"Sudah siap. Sudah jadi stasiunnya. Posisinya tidak jauh dari perkantoran AP II Tower. Sekarang proses persiapan kelengkapan tenant di dalam. Itu tugas PT Railink yang melakukan pemenuhan dari sisi tenant," kata Public Relation Manager PT Angkasa Pura II Yado Yarismano.

Yado menjelaskan, nantinya ketika itu beroperasi, penumpang di terminal kedatangan bisa langsung menuju integrated building dengan menggunakan sky train.

Selter Sky train kini tersedia di Terminal 1, 2, dan 3.

Dengan menggunakan sky train, penumpang diarahkan menuju selter integrated building untuk menyeberangi koridor jembatan menuju stasiun bandara.

Yado mengakui sampai sekarang pembangunan integrated building baru masuk tahap awal.

Namun, selter sky train yang menjadi bagian dari integrated building sudah bisa digunakan lebih dulu.

Fungsi integrated building bukan hanya untuk penumpang yang hendak ke pusat Kota Jakarta menggunakan KA bandara, melainkan juga mengakomodasi penumpang pesawat yang hendak menggunakan DAMRI atau taksi. (J-3)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya