Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sandiaga Anggap Data Setara Institute tidak Mutakhir

MI
19/11/2017 09:33
Sandiaga Anggap Data Setara Institute tidak Mutakhir
(Peneliti SETARA Institute Halili, memaparkan hasil penelitian dalam diskusi di Jakarta, Kamis (16/11)---MI/Ramdani)

WAKIL Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menganggap indeks kota toleran (IKT) yang dipublikasi oleh Setara Institute menggunakan data yang tidak mutakhir. Akan tetapi, Sandiaga menga­kui situasi di masyarakat sempat memanas saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017.

“Kalau (data) kami, baru saja. Baru tiga minggu terakhir. Data Setara Institute kalau enggak salah, 2016-2017. Kalau pas pilkada, memang kita lihat sebagai dampak dari sebuah konstetasi yang sempat sangat tinggi. Mulai pemantauan warga dan partisipasinya tinggi. Namun, setelah itu, alhamdulillah turun sendiri di akar rumput,” ujar Sandiaga di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, data yang di­miliki Pemprov DKI ­Jakarta menunjukkan kondisi tole­ransi di Jakarta sudah sangat kondusif.

Ditambah, sambung Sandiaga, indikator yang digunakan Setara Institute berbeda dengan yang dimiliki pemprov, yakni Setara Institute menggunakan variabel penilaian berupa rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), peraturan daerah, tindakan pemerintah kota, serta pernyataan pemerintah terkait kekerasan berbasis agama.

Sementara itu, data yang dimiliki Pemprov DKI, jelas dia, berbasis big data yang real time. “Indikatornya berbeda. Kami gunakan big data yang real time dari segi konflik yang ada di bawah juga persepsi masyarakat,” tambahnya.

Meski demikian, Sandiaga mengaku akan menjadikan kedua data tersebut sebagai rujukan untuk menciptakan toleransi di Jakarta. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). “Tugas kami juga untuk memastikan tingkat toleransi warga serta meningkatkan kebinekaannya.”

Sebelumnya, Setara Institute merilis IKT 2017 yang menempatkan DKI Jakarta sebagai kota dengan skor toleransi terendah dengan nilai 2,30. Setara Institute juga menyatakan Kota Yogyakarta termasuk dalam cluster kota dengan toleransi rendah.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku belum mengetahui kawasan di daerah­ yang dia pimpin ada yang dinyatakan kota intoleran.­ “Yang perlu diperhatikan, kajian itu hanya perkiraan atau survei yang harus diperjelas,” kata Sultan.

Menurut dia, hasil IKT dari informasi yang dirilis Setara Institute sangat berbeda dengan yang masuk ke pihaknya. Dalam tiga tahun terakhir, banyak survei menyatakan Yogyakarta ialah kota paling toleran. “Selama ini saya masih menganggap Yogyakarta kota paling toleran,” jawabnya. (Nic/AU/N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya