Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Bekasi tak Peduli Balita Kurang Gizi

19/10/2017 08:53
Bekasi tak Peduli Balita Kurang Gizi
(ANTARA/ANIS EFIZUDIN)

ANTUSIASME puluhan orangtua membawa balita (bayi di bawah usia lima tahun) mereka ke pos pelayanan terpadu (posyandu) di wilayah Kabupaten Bekasi tidak diimbangi upaya pemerintah setempat menyehatkan mereka.

Posyandu yang terletak di permukiman warga RT 02-07 RW 17, Desa Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, itu terpaksa menyuguhkan makanan instan sebagai bekal penambah gizi balita yang datang ke posyandu.

Sekretaris Posyandu Buegenville A, Pondok Timur Indah I, Jatimulya, Bekasi, Eli Jonius mengungkapkan kegiatan posyandu berjalan hingga saat ini berkat uluran tangan para kader posyandu tiap RT. Pemerintah setempat tidak pernah menyediakan anggaran operasional agar kegiatan rutin bulanan ini bisa terselenggara.

“Tidak ada uang operasional sama sekali, bahkan kader di sini bekerja dengan sukarela dan ikhlas tanpa mendapat insentif dari pemerintah,” ungkap Eli ketika disambangi, kemarin.

Eli menjelaskan saban bulan para kader sengaja menyisihkan sebagian rezeki untuk ditabung ke dalam uang kas bulanan posyandu. Dalam satu bulan terkumpul dana sebesar Rp90 ribu. Uang tersebut untuk membeli kebutuhan konsumsi penambah gizi peserta posyandu.

Dana yang terkumpul itu, menurut Eli, belum cukup untuk menutupi kebutuhan pembelian makanan tambahan anggota Posyandu. Karena itu, bagi kader yang tengah piket harus menomboki dengan uang pribadinya.

“Untungnya piketnya per RT, jadi ditambahinnya kadang menggunakan uang kas RT,” kata dia.

Meski demikian, Eli mengaku tetap berupaya optimal menyuguhkan makanan tambahan untuk para peserta posyandu. Meskipun ia mengaku tidak pernah lagi sempat membuat makanan tambahan penuh gizi seperti bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur candil, bubur sumsum atau sejenisnya, para kader tetap mengusahakan menyuguhkan susu kotak sebagai suguhan. “Paling banter susu kotak dan biskuit lah meski enggak bisa penuh gizi seperti sebelumnya,” imbuh Eli.

Sumiyati, kader Posyandu Buegenville 2 lainnya, mengaku tidak mengharapkan insentif pribadi untuk mereka. Mereka berharap pemerintah setempat memikirkan alokasi dana operasional posyandu di wilayahnya.

“Kita enggak butuh lah uang untuk kader, tetapi setidaknya pemerintah memikirkan dana untuk pemerian makanan tambahan bergizi bagi para peserta posyandu,” kata Yati.

Kondisi serupa terjadi di Posyandu Anggrek Bulan 2, Kelurahan Jati Cempaka, Pondok Gede, Kota Bekasi.

Bidan Desa Puskesmas Jatimulya Sri Rezeki menyampaikan ada anggaran operasioal untuk posyandu. Namun, hanya untuk beberapa posyandu saja yang letaknya di wilayah terpencil. (Gana Buana/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya