Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
BUS Trans-Jakarta mulai uji coba mengangkut penumpang di koridor 13, kemarin. Ada dua rute yang diuji coba yakni Ciledug-Ragunan dan Ciledug-Tendean.
Setiap rute, PRT Trans-Jakarta menyiapkan lima unit dengan jarak waktu antarbus 30 menit dan belum dikenai tarif. Di ruas koridor 13 sudah tersedia 12 halte yang beberapa di antaranya terkoneksi antarkoridor.
Direktur Operasional PT Trans-Jakarta Daud Joseph menjelaskan, mulai 16 Agustus, koridor 13 menggunakan tiga jalur, yakni Ciledug-Blok M melalui Halte Tendean, Ciledug-Pancoran, dan rute cepat dari Ciledug menuju Bundaran HI. “Kami siapkan 100 bus yang disebar di tiga rute dengan target penumpang 40.000 orang per hari.” Uji coba kemarin hanya mengaktifkan tiga halte, yakni Halte Adam Malik, Halte Puri Beta dan Halte Tendean. Selama masa uji coba angkut penumpang, rute Ciledug-Blok M dan Ciledug-Pancoran Barat beroperasi mulai pukul 05.00 WIB hingga 19.00. Sementara itu, rute Ciledug-Bundaran HI hanya dua jam dari pukul 05.00 sampai 07.00.
Antusiasme calon penumpang pada uji coba terlihat tinggi. Mereka sudah mengantre sejak pukul 08.00. Padahal, bus akan berangkat pukul 09.00. Ridwan, 35, warga Cilangkap, Jakarta Timur, mengaku sangat terbantu dengan adanya koridor 13.
Dirinya bersama keluarga terbilang sering bepergian ke wilayah Ulujami, Bintaro, Jakarta Selatan, dan Tangerang Selatan, mengunjungi kerabat. Menurut Ridwan, kehadiran koridor 13 membuat biaya perjalanan lebih hemat, mudah dijangkau, dan nyaman.
“Kalau naik angkutan umum berbasis daring bisa habis Rp200 ribu. Naik kendaraan umum harus gonta-ganti angkutan. Ini hemat banget, cuma dengan Rp3.500 sudah sampai ke Tangerang,” cetusnya.
Hal senada diungkapkan Yani, 50, warga Tendean, Mampang Prapatan, yang mencoba layanan gratis. Dia menilai kehadiran koridor 13 merupakan peningkatan pelayanan transportasi massal.
“Kalau angkutan massal dan fasilitasnya lebih baik, saya rasa semua orang akan mengarah ke transportasi massal. Harapan saya semua bisa terintegrasi, kalau semua sudah, enggak perlu lagi menggunakan angkutan pribadi,” terangnya.
Kendati demikian, pembangunan lift di 10 titik halte belum bisa terealisasi karena titik lokasi kurang lebar. Seperti yang direncanakan, lift akan dibangun di halte bawah menggunakan median jalan.
Namun, median jalan yang tersedia rata-rata hanya selebar 3-3,5 meter. Padahal, dibutuhkan seluas empat meter untuk bisa bangun lift yang aman. “Selain lebar empat meter, harus dilebihkan satu meter untuk safety supaya tidak bersinggungan langsung dengan kendaraan. Percontohannya baru dibuat di CSW (centrale stichting wederopbouw),” ujar Direktur Teknik dan Fasilitas Wijanarko.
Kurang lebarnya median jalan menjadi kendala pembangunan lift. Meski demikian, Wijanarko menambahkan pihaknya tetap mengajukan proses perizinan pembangunan lift ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Saat menanggapi belum terkoneksinya lift, Kepala BPTJ Bambang Prihartono menyarankan masyarakat tidak turun di halte-halte tinggi. Ia mencontohkan yang ke Mabes Polri, tidak harus turun di Halte CSW, tetapi di Halte Tendean menggunakan koridor 1. (Aya/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved