Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Mereka Khawatir Diejek Siswa SMAN 10

Gana Buana/J-2
14/8/2017 07:32
Mereka Khawatir Diejek Siswa SMAN 10
(Para siswa-siswi SMAN 10 Bekasi duduk-duduk di depan kelas darurat di SMK Yaperti Kota Bekasi, Jawa Barat, pekan lalu. Sebanyak 72 siswa SMAN 10 nasibnya terkatung karena tidak ada guru yang mengajar dan tidak mempunyai ruang kelas. -- MI/Gana Buana)

TASYA Anggi, 16, amat bersyukur karena kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sudah dimulai sejak Kamis (10/8). Semula hati kecil remaja yang beranjak dewasa tersebut pesimistis bisa sekolah pada tahun ajaran ini.

Nasib Tasya dan 71 siswa kelas X SMAN 10 Kota Bekasi menjadi terang setelah Kepala Disdik Provinsi Jabar Ahmad Hadadi menyatakan mereka diikutkan di sekolah terbuka.

“Sekolah induknya SMA 10 (Kota Bekasi), kurikulumnya sama, ujiannya sama, nanti ijazahnya pun sama SMA 10 Kota Bekasi. Yang berbeda cara pembelajaran, mereka belajar di tempat lain,” papar Ahmad, Kamis (10/8).

Tasya menyambut gembira keputusan Kadisdik Jabar tersebut. “Saya memang sudah pesimistis dapat belajar normal karena sudah tiga pekan lebih tidak ada guru yang mengajar. Alhamdulillah sejak Kamis sudah ada guru yang mengajar. Saya kembali optimistis,” ujar Tasya, kemarin.

Meski demikian, Tasya tak menampik ada kemungkinan diejek siswa SMAN 10 reguler karena ia dan teman-temannya belajar tidak satu gedung dengan yang lain.

Saat ini ke-72 siswa belajar di gedung SMK Yaperti di Jalan Nusa Indah XI, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria. “Hanya saat acara tertentu kami ke sekolah (SMAN 10) seperti upacara, atau pengarahan guru lain. Agak khawatir sih diejek, enggak nyamannya di situ,” lanjut dia.

Tasya bersama dengan 71 siswa lain masuk SMAN 10 melalui jalur zonasi susulan yang ditetapkan Wali Kota Bekasi. Ia diterima meski sebenarnya kuota sudah penuh. Status mereka sempat menjadi tidak jelas hingga Kadisdik Jabar menerbitkan keputusan belajar di gedung lain.

Ketua Forum Perwakilan Orangtua Siswa Fanny Plontho mengaku puas dengan kebijakan Kadisdik dan hasil mediasi dengan para guru SMAN 10. Dia berharap semua keputusan dari dialog yang diadakan pada Sabtu (12/8) menjadi acuan pihak sekolah ke depan.

“Hasil sosialisasi cukup memuaskan orangtua murid dan kami semua menerima hasil mediasi yang terjadi. Kami harap hasil ini bisa dibawa dan dipakai untuk tiga tahun ke depan,” ujarnya.

Fanny menyatakan orangtua akan terus memantau perkembangan anak-anak mereka agar tetap mendapatkan hak sebagai pelajar SMA Negeri 10. “Tugas kami mengawal proses belajar-mengajar dan memberi semangat agar anak-anak kembali memiliki semangat belajar,” imbuhnya. (Gana Buana/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya