Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
DUGAAN penggunaan data fiktif dan praktik pungutan liar (pungli) penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) semakin terang.
Proses PPDB berjalan secara daring Juli 2017. Belakangan setelah pemutakhiran data selesai, terungkap ada pihak yang bermain curang. Panitia seleksi menemukan peserta yang tidak laik lolos seleksi tiba-tiba muncul dan dinyatakan lolos di jalur daring.
Di SMP Negeri 4 Pamulang, panitia PPDB setempat menemukan peserta lolos seleksi dengan melampirkan sertifikat prestasi olahraga yang diduga palsu dan ada calon siswa yang bertempat tinggal di luar zonasi.
“Saat verifikasi pascapengumuman (kelulusan pendaftaran daring), ada 12 murid siluman (lolos seleksi tanpa memenuhi prasyarat). Sebanyak 10 anak rumahnya di luar zonasi dan 2 memakai jalur prestasi sertifikat palsu,” ungkap panitia PPDB SMP Negeri 4 Kota Tangsel, kemarin.
Panitia PPDB telah memverifikasi dan meyakini sertifikat prestasi bidang olahraga kriket yang dimiliki kedua peserta palsu. Kecurigaan muncul lantaran calon peserta didik terdaftar dan dinyatakan lolos lewat jalur daring reguler, bukan jalur prestasi.
“Peserta jalur prestasi beda dengan lainnya. Biasanya mereka datang dari luar zonasi, tapi ini mereka asal Pamulang, rumahnya juga satu kompleks. Saat wawancara, orangtuanya tidak mau ngomong. Tapi akhirnya bicara mereka daftar lewat orang dinas (Pendidikan Kota Tangsel),” bebernya.
Terkait dengan sertifikat berprestasi kriket, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Tangsel Rita Juwita menegaskan KONI maupun cabang olahraga tidak pernah mengeluarkan sertifikat di luar pertandingan.
“Kalau itu (sertifikat kriket) ada, itu kerjaan oknum. Kita akan telusuri. Biar bagaimana juga, ini menyangkut predikat olahraga. Kalau sertifikat prestasi (fiktif) ada, dapat membawa dampak kurang baik bagi atlet yang benar-benar ingin mengukir prestasi,” cetusnya.
“Setahu saya baru olahraga panahan diperlombakan untuk atlet usia SD. Kriket itu tingkat profesional. Kami akan klarifikasi ke ketua cabang olahraga bersangkutan di tingkat kota dan provinsi,” imbuh Rita.
Kecurangan lain menyangkut pelanggaran batas jarak zonasi sekolah. Sesuai dengan aturan, peserta seleksi yang terakomodasi harus berdomisili di sekitar lingkungan sekolah dengan jarak garis lurus sejauh maksimal 200 meter.
Nyatanya, 10 peserta di SMP Negeri 4 datang dari luar zona, tapi tetap dinyatakan lolos seleksi. “Kita cek jarak rumah mereka satu per satu pakai (Google) Maps. Jaraknya melampaui batas zonasi, malah sampai 3,2 km,” katanya.
Atas hasil verifikasi dan wawancara tadi, pihak sekolah merekomendasikan ke-12 orangtua murid mendatangi panitia PPDB Disdik Tangsel. Sebabnya, disdik memegang kuasa penuh peserta lolos atau digugurkan. “Ternyata dinas tetap meloloskan. Ada tanda tangan panitia PPDB dan stempel. Kalau keputusannya begitu ya kita mau gimana,“ ketusnya.
Sistem dibobol
Di SMP Negeri 17, kecurangan juga ditemukan. Kepala SMP Negeri 17 Hermayandana mengutarakan pihaknya sempat terkejut karena ada data peserta tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuan operator daring sekolah. “Kalau pelanggaran batas zonasi sekolah pasti banyak. Ini yang saya bingung ada peserta NEM (nilai ebtanas murni) kecil bisa lolos. Jarak rumahnya juga sekian kilometer dari sekolah. Ada orangtua yang protes ke saya, nilai anaknya lebih besar tapi tidak diterima,” ungkapnya.
Atas temuan itu, pihak sekolah langsung mengecek dan menemukan sistem dibobol. Hanya, belum dipastikan pihak mana yang sengaja memasukkan data secara ilegal. “Panitia sekolah menemukan admin luar masuk ke kita. Belum diketahui, itu yang bertanggung jawab Dinas Pendidikan Tangsel atau Kominfo,” ujarnya.
Di pihak lain, sejumlah orangtua peserta PPDB di SMP Negeri 9 Kota Tangsel geram. Anak mereka dinyatakan tidak lolos seleksi kendati sudah menyetorkan sejumlah uang kepada salah satu guru. (J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved