Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Warga Kebon Sirih Mulai Gerah dengan Banyaknya Pengungsi

Sri Utami
04/8/2017 19:03
Warga Kebon Sirih Mulai Gerah dengan Banyaknya Pengungsi
(Thinkstock)

BANYAKNYA pengungsi asal Afghanistan dan Somalia yang cukup lama tinggal di kawasan Kebon Sirih 1 Jakarta Pusat, dekat markas UNHCR, membuat warga setempat tidak lagi menilai hal tersebut menjadi masalah kemanusian yang luar biasa.

Warga yang awalnya aktif memberikan bantuan kini sudah sudah tidak lagi. Hal ini disebabkan kebosanan karena semakin banyak pengungsi yang berdatangan.

Bahkan sarana sanitasi umum yang dulu dapat dipakai siapa saja, sekarang sudah tidak digunakan oleh para pengungsi. Hamdi, 57, menuturkan warga sudah biasa melihat pengungsi yang tidur di jalan kampung mereka.

"Kalau awalnya banyak warga yang menolong tapi semakin ke sini warga biasa saja. Mereka ini banyak uangnya. Lihat saja handphonenya bagus semua. Mana mau mereka makan nasi atau beli di sini kecuali ada orang yang menyumbang, belinya nasi di sini," cetusnya

Hamdi juga mengatakan warga sering merasa gerah dengan kelakuan mereka yang sering memakai sanitasi umum seenaknya. Sehingga banyak warga setempat yang mengeluh karena antrian yang panjang dan terlambat berangkat bekerja.

"Mereka tidak menganggu tapi kalau memakai toilet umum mereka lama sekali. Mulai dari subuh sampai siang penuh mereka semua. Mulai dari mandi sampai mencuci," keluhnya

Sementara itu menurut Farid Mujiani yang juga warga Kebon Sirih 1 mengungkapkan, para pengungsi yang sudah lama tinggal di pinggir jalan, banyak yang bekerja sebagai pria simpanan.

"Mereka yang sudah bertahun tinggal di tenda cari uangnya jadi pria simpanan. Biasanya mereka ada di kawasan sekitar kompleks Sarinah, Jl MH Thamrin," ungkapnya.

Hal ini lanjut Farid bisa dilihat dari kegiatan yang mencolok di malam dan siang hari. "Bisa dilihat kalau malam mereka ramai tapi hanya wanita dan pria yang sudah tua saja. Sedangkan siang semua ada mau perempuan atau laki-lakinya.Tapi saat malam pria mudanya semua berpencar 'kerja' cari uang," ujar Farid.

Hal itu bisa terjadi, menurut dia, karena keberadaan pengungsi terlalu lama dan butuh biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan lain selain bantuan dari UNHCR.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya