Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Menanti Kehidupan Baru di Pengungsian Kebon Sirih

Sri Utami
04/8/2017 16:40
Menanti Kehidupan Baru di Pengungsian Kebon Sirih
(Ilustrasi---Thinkstock)

MUSIK dangdut Sakit Gigi menemani pagi Shukria, 30, serta sekitar 30 pengungsi asal Afganistan dan Somalia di jalanan Kebon Sirih 1 Jakarta Pusat, Jumat (4/8) pagi tadi. Shukria baru saja membenahi tumpukan baju yang dibungkusnya dalam plastik hitam serta menggulung matras tipis yang dipakainya untuk alas tidur tadi malam.

Tiga baju yang baru saja dicucinya digantung di tali yang dibentang sepanjang satu meter. Dibentang di sudut pagar, difungsikan menjadi jemuran dan digunakan bersama dengan pengungsi lainnya.

Sambil sesekali membetulkan letak kerudung merah marunnya, Shukria terlihat menikmati alunan musik yang diputar oleh salah satu penjaga warung yang ada di sekitar tempat itu. Empat anak kecil Afganistan yang sudah terbangun sejak pukul 05.00 Wib riang bermain sambil menggendong boneka dan saling bekejar-kejaran tanpa alas kaki.

Sedangkan beberapa wanita dan pria lainnya memilih lesehan di tenda atau teras rumah warga sambil berbincang. Mereka menikmati sarapan nasi bungkus dari pemberian relawan.

Warga korban perang yang sedang menanti surat suaka dari UNHCR ini bertahan di jalanan Ibu Kota dengan bermodalkan terpal atau kelambu yang dibuat seadanya. "Allhamdulillah pagi yang cerah. Kalau hujan datang kami harus duduk semalaman tidak bisa tidur," ujar Shukria mensyukuri hari.

Selama dua bulan Shukria bersama tiga saudara dan ibu kandungnya tinggal dan bertahan hidup di jalanan Jakarta. Mereka berangkat dari negaranya menuju Malaysia yang selanjutnya tiba di Indonesia. Mereka menginginkan menetap di Australia. Namun hingga kini surat suaka yang dibutuhkan tersebut belum kunjung dia dapat.

"Kami datang ke Malaysia naik pesawat selanjutnya kami menggunakan kapal laut sampai akhirnya tiba di sini," jelasnya.

Shukria mengatakan dia dan keluarganya tidak memiliki visa dan surat yang cukup. Namun hal ini tidak menghalangi keluarganya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

"Kami tahu kami ilegal tapi kami harus meneruskan hidup kami. Kami juga tidak punya uang hanya bermodalkan belas kasihan orang yang memberikan kami makan dan alas tidur," imbuhnya

Shukria dan sekitar 30 pengungsi lainnya mengaku tidak punya pilihan selain tinggal dan bertahan di pinggir jalan. Keinginanya untuk mengontrak rumah di Jakarta harus dikuburnya dalam-dalam karena tidak ada biaya.

"Kami tidak punya pilihan. Kami sangat miskin. Alhamdulilah selama ini kami tidak pernah diusir oleh petugas keamanan atau menerima kekerasan," terangnya

Ketidakjelasan nasib juga dirasakan oleh pengungsi asal Afganistan lainnya. Ali Akbar, 35, telah bertahan di Jakarta selama empat tahun menunggu surat suaka yang diinginkannya. Selama itu juga dirinya terus tinggal di pinggiran jalan Kebon Sirih 1.

"Siapa yang akan tahan dengan keganasan perang. Saya diyakinkan oleh keluarga untuk lari dari negara itu," cetusnya

Ali tidak pernah menyesali langkah yang dia ambil meski pun hal itu ilegal (tanpa surat resmi). Dia justru bersyukur dapat sampai ke negara yang aman seperti Indonesia.

"Dari negara saya ke Malaysia semuanya aman, menyilahkan saya untuk ke sini. Saya tidak tahu mungkin pemerintah Malaysia seperti menutup mata tentang kami dan dibiarkan kami tiba di sini," paparnya

Selama tinggal di tenda pengungsian tersebut Ali dan pengungsi lainnya sudah terbiasa dengan kondisi kehidupan di Jakarta yang panas dan bising.

"Kalau pun saya meninggal di sini, saya akan berterima kasih pada Tuhan apa yang sudah saya dapatkan sekarang," tegasnya

Pria dengan mata biru ini sempat mengeluhkan tempat sanitasi yang jauh dari tempat mereka mengungsi. Untuk kebutuhan tersebut mereka harus berjalan sejauh 500 meter menuju sanitasi umum yang ada di kawasan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.

"Sudah biasa kami seperti ini. Selain berjalan cukup jauh kami harus membayar Rp2 ribu untuk bayar toilet," imbuhnya

Di sisi lain Associate External Relations UNHCR Mitra Salima Suryono menerangkan pemerintah belum meratifikasi Konsensi 1951 tentang pengungsi. Hal ini menyebabkan UNHCR hanya mendata para orang yang berpindah karena penganiayaan.

"Mandat UNHCR kita hanya melakukan pendaftaran dan menentukan status pengungsi. Sebuah proses interview mendalam dan penilaian tetap dilakukan," jelasnya

Dia mengatakan meski belum meratifikasi konsensi tersebut pemerintah sudah membuat Peraturan Presiden Nomor 125 tahun 2016 tentang pengungsi dari luar negeri. Peraturan tersebut membuat tanggung jawab beberapa kementerian tentang pemasalahan dunia tersebut.

"Secara humanity pemerintah kita tidak pernah menolak pengungsi dan juga memberikan perlindungan terhadap mereka salah satunya tidak mengembalikan mereka ke negara mereka. Namun dengan permasalahan global pengungsian saat ini sangat sulit membagi keuangannya," paparnya.

Terkait dengan pengungsi yang tinggal di tenda dan pinggir jalan, menurut Mitra hal itu berdasarkan skala prioritas yang paling rentan. Korban yang paling rentan tersebut antara lain, orang tua, anak tanpa pendamping, wanita, orang dengan disabilitas atau luka.

"Selama mereka mendaftar di UNHCR dan memang ada yang tidak memiliki dokumen karena banyak kejadian rumahnya dibakar dan tidak ada yang bisa diselamatkan. Tapi kami harus lakukan prioritas itu," tutupnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya