Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
SYAHDAN Sabeni pendekar Betawi asal Tenabang (kini disebut Tanah Abang) ditantang adu silat oleh seorang kampetai pada masa pemerintahan Jepang.
Pertandingan yang digelar di markas besar Kampetai yang sekarang menjadi Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, itu dilakukan guna membebaskan anak Sabeni yang bernama Sapi'i.
Lantaran tidak sanggup menghadapi perlakuan tentata Dai Nippon, Sapi'i kabur dari Surabaya lalu bersembunyi di rumah orangtuanya.
"Kalau Sabeni menang, (maka Sapi'i) bebas dan boleh pulang," begitu ucapan sang komandan yang diceritakaBang Thabrani dalam buku Ba-be seperti dituliskan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjor.
Benar saja, Sabeni yang tersohor dengan jurus kelabang nyebrang itu mengalahkan anak buah sang komandan.
Untuk menghormati Sabeni, namanya disematkan di jalan yang melintas depan kediamannya di kawasan Tanah Abang.
Adapun makam Sabeni dipindahkan dari Gang Kubur ke Karet Bivak.
Yahya Andi Saputra, sejarawan dari Universitas Indonesia, mengatakan, diabadikannya nama pendekar Betawi sebagai nama jalan dilakukan untuk mengenang keberanian mereka melawan penjajah.
Selain Sabeni, Yahya menyebut nama Haji Murthado dari Kemayoran.
Suatu waktu, kelompok perampok pimpinan Warsa datang memasuki Kemayoran.
Murthado dan dua temannya, Saomin dan Sarpin, melawan perampok itu, mengejar hingga ke markas mereka di Tambun, Bekasi.
Tak berhasil, Murthado tak patah arang.
Di Karawang ia menemukan gerombolan Warsa.
Gerombolan itu akhirnya kalah dan Warsa mati dalam perkelahian.
"Rakyat di Kemayoran berterima kasih dan merasa berutang budi. Jawara berjulukan 'Macan Kemayoran' itu diabadikan menjadi nama sebuah jalan," kata Yahya.
Ada pula Haji Darip dari Klender, Jakarta Timur, yang menjadi tokoh sentral maen pukulan yang diabadikan namanya karena berperan sebagai pemimpin Barisan Rakyat (Bara) pada 1940-an.
Jalan Ulujami di Ciledug juga diabadikan dari Haji Dilun bin Syairan bin Madi Ulujami, tokoh yang mengenalkan maen pukulan Troktok.
Ia berasal dari keluarga priayi Betawi yang mampu menimba ilmu.
Setelah berguru kepada Guru Marzuk di Rawa Kidang Tangerang, Dilun muda meng-ajarkan aliran Troktok kepada teman-temannya.
Troktok dikembangkan anak Dilun, Haji Muhammad Syukri dan diturunkan ke anaknya, Nasri Syukri.
Troktok tetap terjaga.
Pun nama Jalan Ulujami. (Aya/J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved