Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
'PITOENG Tertangkap'.
Demikian judul berita pada harian Hindia-Olanda edisi 16 Oktober 1893 halaman 3 yang tersimpan rapi di rak-rak Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Berdasarkan catatan Hindia-Olanda, sang jawara dari Rawa Belong, Jakarta Barat, itu dibekuk Hoofddjaksa (polisi Kolonial Belanda) di rumahnya di Kampoeng Soekaboemi (kini kawasan Rawa Belong) lantaran diduga melakukan perampokan di rumah Nyonya d. C. Kebon Djahe.
Nama si Pitung kerap mewarnai halaman koran pada masa itu. Masih di Hindia-Olanda dalam edisi 16 Oktober 1893, muncul lagi berita 'Pitoeng tertangkap', kali ini di sebuah kuburan di Kampoeng Kota Bamboe.
Meski sudah berkali-kali diberitakan tertangkap atau mati, Pitung muncul lagi, menjadi mimpi buruk bagi pemerintah Hindia Belanda.
Dengan maen pukulan--seni bela diri khas Betawi--menjadi senjatanya, Pitung melawan aparat kolonial yang berupaya menangkapnya.
Bak Robinhood dari tanah Betawi, Pitung merampas harta orang kaya nonpribumi untuk diberikan kepada orang Betawi yang miskin.
Ilmu bela diri maen pukulan bukan hanya milik si Pitung.
Laki-laki Betawi pada masa sulit mendapat bahan pangan itu wajib belajar maen pukul-an.
Barang siapa yang tidak, siap-siap disebut lemah atau payah.
Maka itu, silat menjadi identitas penting bagi masyarakat Betawi.
Ada sederet nama pendekar Betawi yang terkenal selain Pitung, yakni Sabeni dari Tenabang (Tanah Abang), Haji Darip dari Klender, Haji Entong Gendut dari Condet, dan Haji Murthado dari Kemayoran.
Yahya Andi Saputra, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi Bidang Kelestarian, menuturkan maen pukulan berkembang sebagai senjata pemberontakan seiring pe-nguasaan lahan pertanian dan perkebunan oleh VOC.
"Bahan makanan pada masa kolonial sebenarnya banyak. Banyak perkebunan palawija, padi, cengkih, dan umbi-umbian. Namun, seluruhnya dikuasai tuan tanah baik dari etnik Tionghoa atau Belanda," tutur Yahya.
Warga pribumi hanya bertugas mengelola tanah dengan bagi hasil 5:1, yakni satu ikat padi menjadi hak masyarakat dari lima ikat yang didapat.
Pribumi yang memiliki lahan wajib membayar pajak dengan besaran yang sengaja dipatok lebih mahal agar akhirnya bisa jatuh ke tangan penguasa.
"Terkadang rakyat dijebak dengan dikasih ongkos dalam permainan judi. Hasilnya semua diambil hampir seluruhnya oleh tuan tanah. Mereka juga tidak bisa keluar dari desa," tuturnya.
Di tengah penderitaan itu, banyak pendekar asli Betawi yang mengembangkan maen pukulan.
Menurutnya, setiap daerah di Batavia memiliki aliran yang berbeda-beda.
Kebanyakan jurus aliran itu diberi nama hewan, seperti naga ngerem, merak ngigel, atau kelabang nyebrang.
"Istilahnya 'tiap utan ade macannye, tiap kampung ade maenannye'. Bela diri maen pukulan itu digunakan para pendekar untuk melindungi diri sendiri dan keluarganya baik dari binatang buas atau manusia jahat," imbuhnya.
GJ Nawi, dalam Maen Pukulan, Pencak Silat Betawi, menyebut dari 600-800 pencak silat di Indonesia, ada sekitar 317 aliran maen pukulan dari Betawi.
Aliran itu merupakan pengembangan dari sekitar 100-200 pecahan dari empat aliran inti.
Jumlah yang sama juga yang tercatat di Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi.
Empat aliran inti atas karakter dan bentuk maen pukulan, ialah gerak cepat, gerak kuat, gerak teguh, dan gerak rasa.
Turun-temurun
Dari ratusan aliran tersebut, salah satu yang yang bertahan hingga kini ialah aliran Dji'it dari Cakung di ujung Jakarta Timur.
Kong Dji'it, seroang pribumi Betawi asal Kayu Tinggi, Cakung, ialah pencipta aliran ini.
Pria yang berprofesi sebagai mandor air pada zaman Belanda itu dikenal sebagai guru maen pukukan dari kampung ke kampung.
Warga mengumpulkan uang bersama buat belajar maen pukulan.
Pelajaran hanya diberikan saat masa panen. Pasalnya, Kong Dji'it dibayar dengan padi.
Dia kemudian menurunkan alirannya kepada Kong Haji Salam, yang kemudian mewariskannya lagi ke Haji Hudori, Tarman, dan Haji Turmadi.
Kepada Media Indonesia, Haji Hudori mengaku telah menurunkan aliran itu kepada anaknya, Sayid Abiq.
Aliran turun-temurun itu, diakui-nya beda dengan kebanyakan aliran maen pukulan.
Jika pada aliran lain kuda-kuda antarkaku biasanya selebar 1 meter, pada aliran Dji'it hanya berjarak 40-50 cm sehingga terlihat lebih santai.
Dji'it juga beda karena hanya pakai satu tangan.
Gerakannya tergolong sederhana, hanya pukul dan tangkis yang mengandalkan kecepatan, kekuatan, dan karakter permainan yang keras, tidak mengenal tangkapan.
"Lawan yang memukul akan dipukul dengan cara diadu ta-ngan baru kemudian masuk ke tubuh lawan. Sampai sekarang belum ada maen pukulan pakai satu tangan. Permainan kami dinilai terlalu berbahaya oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) karena ada gerakan yang mematahkan langsung," jelas Hudori, saat ditemui di Perguruan Silat Betawi Dji'it Cakung.
Ada pula ritual yang menyertai.
Selain ritual yang terpengaruh budaya Islam seperti salat dan mengaji, ada pula syarat menyiapkan makanan khusus sebelum mendapat ajaran.
Selang 3-4 bulan setelah menyiapkan nasi ketan, telur bebek, ikan japuh, kopi pahit, teh manis, dan susu, barulah murid diberikan ilmu dasar.
"Kalau sudah kuat di jurus dasar, kami selametan lagi dengan mempersiapkan kue onde-onde yang terbuat dari ketan. Filosofinya agar tangan menjadi lengket dan lentur seperti ketan," tuturnya.
Pada aliran Dji'it, kekuatan tangan menjadi krusial.
Tiap hari murid diuji kekuatan tangannya.
Tangan lebam karena dihantam tebu atau bambu.
Hudori sendiri mulai belajar maen pukulan Dji'it pada 1980-an, saat Cakung masih gelap gulita dan rawan penjahat.
Di kawasan Rawa Belong, lain lagi alirannya.
Maen pukul-an cingkrik namanya, dibuat Ki Maing asli Rawa Belong.
Dalam Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi, GJ Nawi menyebut aliran ini terinspirasi gerakan seekor kera.
Suatu hari, tongkat Ki Maing dirampas kera milik Nyi Saereh, tetangganya.
Secara spontan Ki Maing berebut tongkat dengan kera dan terkesan dengan gerakan kera tersebut.
Jadilah, aliran cingkrik yang ditularkannya ke Saari, Ajid dan Ali.
Hingga saat ini di Rawa Belong sendiri terdapat 12 perguruan silat cingkrik.
Menurut Bachtiar, pemilik Sanggar Si Pitung, para pemuda di Rawa Belong tetap belajar silat meski tak lagi digunakan sehari-hari.
Tradisi ini memperkuat identitas Rawa Belong yang disebut-sebut sebagai kampung halaman sang legenda, Pitung.
Cingkrik berasal dari kata jejingkrik yang berarti melompat.
Kebanyakan gerakan silat cingkrik adalah melompat.
Namun yang utama dari silat ini adalah kecepatan. Cukup mematikan, tapi bukan untuk disombongkan.
"Kata orangtua kami dulu, jangan pernah sombong dengan kehebatan silat kita karena dengan kesombongan itu lambat laun akan menghancurkan kita," ujar Bachtiar.
Ada lagi aliran lain yang masih lestari di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat. Aliran yang dibuat Kwe Tang Kiam itu bernama Mustika Kwitang.
Dalam Batavia Kota Banjir, sejarawan Alwi Shahab menceritakan jagoan silat bernama Muhammad Djaelani.
Pria yang mewarisi Mustika Kwitang itu dihukum seumur hidup lantaran dianggap membunuh konsul Jepang di Batavia.
Ia dibebaskan Barisan Pelopor menjelang kemerdekaan.
Salah satu cucunya, Haji Zakaria, mewarisi ilmu silat Mustika Kwitang.
Ia mendapat pujian dari master karate Jepang di hadapan Presiden Soekarno pada 1960-an.
Namun, saat ini sang ahli waris Mustika Kwitang belum dapat ditemui karena dalam kondisi sakit. (J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved