Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Ikon Terakhir di Depan Kali yang Busuk

10/7/2017 10:45
Ikon Terakhir di Depan Kali yang Busuk
(MI/ADAM DWI)

GEREJA yang menghadap Sungai Cakung itu didirikan empat abad lampau.

Sepanjang itu pula Gereja Tugu menjadi simbol peradaban di kampung keturunan Portugis tersebut.

Sungai Cakung dipercaya sebagai aliran Sungai Candrabaga yang tertera di Prasasti Tugu.

Prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara abad ke-5 itu memang ditemukan di kawasan tersebut.

Sungai itu pula yang dulunya menjadi sarana penghubung masyarakat di Tugu dengan pusat kota Batavia.

Atas alasan itu, bangunan gereja pun dibangun menghadap sungai tersebut.

Sungai tersebut pula yang kini menjadi pembatas antara kompleks gereja dan permukiman penduduk.

Sayang, sungai ini kini telah mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Airnya menjadi hitam berbau. Tampak sebuah jembatan sederhana selebar 2 meter menjadi tempat warga melintas dari permukiman menuju gereja, dan sebaliknya.

Gereja Tugu berdiri tepat di sisi Jalan Raya Tugu, Jakarta Utara.

Dengan halaman luas dan sebuah kompleks permakaman khusus keturunan Tugu, gereja ini turut menjadi bukti kuatnya pengaruh Belanda terhadap para keturunan Portugis.

Gereja Tugu bergaya arsitektur khas Eropa, dengan atap limas cokelat, dinding putih, dan jendela-jendela besar cokelat.

Di dalamnya, ada langit-langit ruangan yang tinggi.

Ada deretan bangku diakon antik, piring-piring logam, dan mimbar kecil yang terbuat dari kayu.

Mimbar telah ada sejak gereja pertama kali didirikan.

Sebuah lonceng yang terpasang di gereja itu diperkirakan dibuat pada 1880.

Namun, itu bukan lonceng asli yang pertama dipasang di sana.

Lonceng yang dibuat pada 1747 itu kini tidak lagi digunakan lantaran telah retak.

Lonceng yang ukurannya lebih besar daripada yang sekarang dipasang itu kini dipajang di teras rumah pendeta di kompleks Gereja Tugu.

Di depan gereja, terdapat sebuah teras dengan empat tiang penyangga.

Seorang keturunan Tugu, Johan Sopaheluwakan, mengisahkan teras ini dulu kerap menjadi tempat Justinus Vinck duduk-duduk sembari minum teh di sore hari saat ia berkunjung ke Kampung Tugu.

Vinc bukan orang Tugu. Ia tuan tanah asal Belanda yang menasbihkan tanahnya untuk pembangunan gereja bagi warga Tugu.

Pun begitu, Gereja Tugu yang berdiri hingga kini sebenarnya bukan gereja yang pertama dibangun untuk warga Tugu.

Awalnya, pada 1676-1678, Pendeta Melchior Leydekker berinisiatif membangun gereja yang diperuntukkan orang Tugu.

Peresmiannya bersamaan dengan dibukanya sebuah sekolah rakyat pertama di Batavia oleh Leydekker. Gereja ini kini menjadi Gereja Katolik Salib Suci.

Gereja ini sempat direnovasi pada 1737 di bawah pimpinan pendeta Belanda, Van de Tydt, dibantu pendeta keturunan Portugis kelahiran Lisabon, yaitu Ferreira de Almeida.

Namun, pada 1737-1741, terjadi kerusuhan yang disebut warga sebagai 'huru-hara China', yang berujung pada pembantaian warga Tionghoa di Batavia (China Onlusten).

Di tengah peristiwa itu, pada 1740, bangunan gereja pun hancur.

Berselang empat tahun, Justinus Vinck menghibahkan tanah miliknya.

Jaraknya tidak jauh, hanya terpaut sekitar 600 meter dari bangunan gereja sebelumnya.

Pembangunan di tanah itu berlangsung selama empat tahun.

Gereja Tugu diresmikan pada 27 Juli 1747 oleh Pendeta JM Mohr Gereja Protestan bagi orang Tugu.

Restu Gunawan menyebut fasilitas yang diberikan Belanda kepada para keturunan Tugu merupakan wujud perlakuan spesial Belanda kepada kaum mardijkers yang masih keturunan bangsa Eropa.

"Analisis saya, (difasilitasi) karena mereka sama-sama orang merdeka," papar Restu.

Pemprov DKI Jakarta telah menyematkan status cagar budaya terhadap gereja ini pada 1999.

Sebagai cagar budaya, keaslian bangunan Gereja Tugu saat ini masih dipertahankan.

Hanya sedikit renovasi terhadap struktur bangunan yang rusak.

Hingga saat ini Gereja Tugu masih aktif menjalankan aktivitas ibadah.

Jemaatnya beragam, baik keturunan Tugu maupun tidak.

Jemaat dari Gereja Tugu beragam, tidak semua merupakan keturunan Tugu.

Gereja Tugu menjadi gereja Protestan karena pengaruh Belanda.

Para keturunan Tugu yang mulanya menganut Katolik memeluk agama Protestan sebagai syarat yang diberikan Belanda agar difasilitasi dengan baik.

"Belanda ingin menghapus pengaruh Portugis sedemikian rupa, termasuk dalam ranah agama," jelasnya.

Namun, perbedaan itu bukan masalah di Kampung Tugu.

Seiring dengan semakin heterogennya Kampung Tugu, beragam pula agama yang dipeluk warga di kawasan itu, yaitu Gereja Tugu Protestan kini berdiri berdekatan dengan Gereja Katolik Salib Suci dan Masjid As-Syuhada. (Nic/Nat/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya