Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Musica de Tugu

10/7/2017 10:30
Musica de Tugu
(MI/ADAM DWI)

SELAMA di Malaka, orang Tugu terbiasa berhura-hura.

Di ujung Batavia, mereka terasing di tengah hutan dan rawa. Hal ini membuat mereka merindu hiburan.

Tiga hal yang mewarnai tradisi orang Tugu berpesta pora, yakni makanan, minuman keras, dan musik.

Rabo-rabo ialah contoh tradisi yang memiliki ketiganya.

"Kita keliling sambil nyanyi, nanti yang didatangi ke rumahnya ngeluarin makanan. Zaman dulu biasanya nyiapin minuman keras, paling ringan bir," jelas Guido.

Kata rabo berarti buntut. Tradisi Rabo-rabo biasanya berlangsung pada perayaan tahun baru yang hingga kini masih bertahan.

Sebegitu sukanya orang Tugu bernyanyi dan berpesta sehingga ketika datang ke tanah baru di Batavia, mereka merasa benar-benar sepi.

Akhirnya, para pendahulu di Tugu membuat sebuah alat musik bernama macina.

Macina berbentuk seperti ukulele, terbuat dari kayu kenanga.

Pohon kenanga yang mulai mati atau kering ditebang, lalu dipotong kecil-kecil.

Pemimpin kelompok musik Keroncong Tugu Cafrinho, Guido Quiko, mengatakan macina<p diciptakan para leluhurnya di Kampung Tugu, sebagai alat penghibur sekaligus pelepas penat.

Setiap malam dulunya warga Kampung Tugu selalu bermain musik dan bernyanyi.

Mereka menyebutnya sebagai musica de tugu.

"Sore habis makan, ditemani minuman kita nyanyi aja hura-hura setiap hari," kata Guido saat ditemui di kediamannya.

Guido meyakini macina sebagai asal muasal musik keroncong.

Lantaran bunyinya yang terdengar crong-crong, orang-orang yang mendengarnya kemudian menyebutnya sebagai keroncong.

"Orang sekitar suka lewat dan dengar musik kita dibilang musik keroncong karena bunyinya. Itulah awal keroncong dari macina," tukasnya.

Lambat laun, macina dimainkan bersama sejumlah alat musik lainnya, seperti prounga--yang juga berbentuk serupa gitar kecil, rebana, celo, serta ultra bass.

Hingga akhirnya terbentuklah musik Keroncong Tugu yang sampai kini masih dijaga betul oleh Guido.

Pada 1925, ketika musik Keroncong Tugu mulai dikenal, Joseph Quiko membuat kelompok musik bernama Orkes Poesaka Krontjong Moresco Toegoe-Anno 1661.

Angka 1661 merujuk pada tahun pertama kedatangan orang Tugu ke Batavia.

Josephlah yang mengajak pemuda Tugu untuk memainkan musik Keroncong Tugu.

Perjalanan Keroncong Tugu sempat vakum pada rentang 1950 hingga 1970-an lantaran situasi politik saat itu.

Sebabnya, warga Tugu masih dianggap sebagai antek-antek Belanda.

Meski telah berganti nama menjadi Cafrinho, kelestarian orkes musik tersebut masih dijaga hingga kini oleh keluarga Quiko.

Kelompok musik Cafrinho masih aktif memainkan Keroncong Tugu di berbagai acara.

Sebuah saung di depan rumah Guido menjadi tempat kelompok musik ini berlatih.

Kelompok Cafrinho pun masih mempertahankan bentuk asli dari musik Keroncong Tugu.

Guido menolak sejumlah tawaran untuk memodifikasi musik Keroncong Tugu menjadi lebih modern sebab baginya Keroncong Tugu merupakan salah satu warisan berharga.

Ciri khas dari musik Keroncong Tugu ialah temponya lebih cepat jika dibandingkan dengan musik keroncong yang berkembang di Jawa.

Keroncong Tugu cocok untuk mengiringi dansa. Cara memainkan macina pun, menurut Guido, tidak serumit memainkan gitar klasik.

"Style keroncong asli tugu itu natural aja, sederhana, enggak ada aransemen macam-macam kayak jenis musik keroncong Jawa yang sudah diimprovisasi," jelasnya.

Di antara lagu-lagu Keroncong Tugu yang masih dinyanyikan hingga kini ialah lagu Yan Kaga Leti yang bertempo cepat bak mengajak pendengarnya berdansa.

Padahal, lirik sesungguhnya bermakna jenaka, mengenai seseorang yang mengalami diare.

"Ini andalan setiap Keroncong Tugu dimainkan inilah andalannya," kata Johan Sopaheluwakan. (Nic/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya