Senin 14 Desember 2020, 05:30 WIB

Menimang-nimang Vaksin Covid-19

Iqbal Mochtar Dokter dan Pengamat Masalah Kesehatan | Kolom Pakar
Menimang-nimang Vaksin Covid-19

Dok.Pribadi

DI tengah vaccine race, Indonesia telah memperoleh jatah vaksin jadi (finished product) buatan perusahan Sinovac, Tiongkok. Jumlahnya 1,2 juta dosis, cukup untuk memvaksinasi 500 ribu-600 ribu orang. Selanjutnya, akan datang lagi vaksin jadi sebanyak 1,8 juta dosis bulan depan, serta sekitar 45 juta dosis dalam bentuk bahan baku (bulk product) tahun depan. Artinya, kalau semua lancar, Indonesia akan punya stok vaksin covid-19 untuk 20 juta-24 juta orang.

Pada saat yang sama, sejumlah perusahaan vaksin telah mengumumkan tingkat keampuhan (efficacy) vaksinnya. Pfizer, Moderna, Gamaleya Institute, dan Astra-Zeneca telah melaporkan hasil interim analysis fase 3 vaksin mereka.

Tingkat keampuhan vaksin-vaksin tersebut di atas 90%. FDA sendiri hanya mensyaratkan keampuhan 50% untuk persetujuan vaksin. Artinya, vaksin-vaksin ini melebihi standar keampuhan. Beberapa vaksin ini telah memperoleh persetujuan penggunaan di berbagai negara dan bahkan telah diberikan kepada masyarakat.

 

Beda spesifikasi

Kementerian Kesehatan pada 3 Desember lalu mengeluarkan surat keputusam tentang penetapan jenis vaksin yang akan digunakan di Indonesia. Ada enam jenis vaksin yang dianggap memenuhi kriteria untuk digunakan, yaitu vaksin-vaksin buatan Bio Farma (vaksin Merah Putih), Astra-Zeneca, Moderna, Pfizer, Sinopharm, dan Sinovac.

Vaksin-vaksin itu dipilih berdasar rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional serta Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Keenam vaksin ini tidak memiliki pakem yang sama. Masing-masing memiliki spesifikasi berbeda, baik bahan dasarnya, teknologi pembuatan, harga, cara penyimpanan, maupun distribusinya.

Di antara keenam vaksin, vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang paling prematur. Sejumlah institusi bekerja untuk pembuatan vaksin ini, di antaranya Eijkman Institute, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Vaksin ini masih berada pada fase praklinik; belum dicobakan pada manusia. Bahannya baru rencana akan diujicobakan pada hewan. Artinya, kalau menggunakan standar periode uji vaksin 12-18 bulan, paling cepat vaksin ini baru akan selesai dibuat sekitar semester awal 2022. Masih cukup lama.

Pfizer adalah perusahaan vaksin covid-19 pertama yang melaporkan tingkat keampuhan vaksinnya, BNT162b2. Vaksin ini memiliki tingkat efficacy di atas 90%. Artinya, 9 dari 10 orang yang diberi vaksin itu dapat terhindar dari keluhan covid-19. Vaksin ini menggunakan teknologi m-RNA dan harus disimpan pada fasilitas yang memiliki suhu sangat rendah, yakni -80 derajat Celsius (ultra-cold storage). Bila tidak, vaksin ini dapat rusak, mati, atau berkurang potensinya.

Sayangnya, fasilitas seperti ini tidak banyak tersedia. Jangankan di negara-negara berkembang, di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa saja fasilitas ini sangat terbatas. Harganya pun mahal, sekitar US$5.000-15.000 per storage. Bisa dibayangkan, berapa biaya untuk pengadaan ribuan atau ratusan ribu storage. Harga terendah vaksin Pfizer sekitar Rp300 ribu per dosis. Vaksinnya butuh dua dosis.

Saat ini, vaksin itu telah mendapat persetujuan penggunaan di Inggris, Bahrain, Kanada, dan Amerika. Bahkan di Inggris, vaksin ini telah digunakan. Dalam beberapa minggu mendatang, 400 ribu orang ditargetkan mendapat vaksin ini.

Vaksin Moderna terbuat dari m-RNA based vaccine dan dilaporkan memiliki tingkat efficacy yang lebih tinggi dari vaksin Pfizer, yakni 95%. Uji coba fase 3 dilakukan terhadap sekitar 30.000 subjek. Meski telah melaporkan interm analysis report, Moderna masih sementara menunggu persetujuan penggunaan vaksin dari FDA.

Sama dengan vaksin Pfizer, vaksin ini juga harus diberikan dua kali. Untuk menjamin tingkat kestabilannya, vaksin ini juga harus disimpan pada suhu -20 derajat Celsius. Fasilitas ini tidak mudah ditemukan di negara-negara berkembang dan menengah, termasuk Indonesia. Harga terendah vaksin Moderna sekitar Rp375 ribu per dosis.

Astra-Zeneca dan Oxford University bekerja sama membuat vaksin covid-19 yang diberi nama AZD1222. Vaksin itu terbuat dari replication deficient viral vector. Vaksin ini telah terkonfirmasi keampuhannya, yakni 62% pada subjek yang menerima 2 dosis standar dan 90% pada subjek yang menerima setengah dosis diikuti satu dosis standar.

Vaksin ini belum memperoleh persetujuan penggunaan. Jika dibandingkan dengan vaksin Pfizer dan Moderna, syarat penyimpanan dan distribusi vaksin ini lebih lunak. Dapat disimpan dan didistribusikan pada suhu 2-8 derajat Celsius, yang merupakan suhu kulkas standar. Harganya termasuk paling murah di antara keenam vaksin yang dibicarakan, yakni Rp60 ribu per dosis. Artinya, dengan Rp120 ribu, orang telah mendapat vaksinasi lengkap.

Vaksin CoronaVac adalah buatan perusahaan Sinovac, Tiongkok, yang saat ini telah berada pada fase 3 uji klinis. Karena masih berada pada fase 3 dan belum memiliki interim report analysis, keampuhan vaksin ini belum terkonfirmasi. Belum ada laporan formal efficacy-nya.

Data tentang manfaat vaksin ini hanya didasarkan pada uji fase 1 dan 2. Pada uji itu, vaksin ini terbukti mampu meningkatkan kadar antibodi subjek yang diberi vaksin, walaupun peningkatan tersebut tidak setinggi kadar antibodi dari orang yang pernah terinfeksi covid-19 dan telah sembuh.

Meski belum memiliki efficacy yang terkonfirmasi, pemerintah Tiongkok telah menyetujui penggunaan vaksin ini bagi pekerja kesehatan dan pekerja publik di sana. Saat ini, uji klinis fase 3 vaksin ini sementara dilakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hasil lengkap uji klinis di Indonesia baru akan dicapai pada April 2021. Adapun hasil interim analysis report-nya mungkin bisa didapatkan pada Januari 2021. Artinya, ada kemungkinan Badan POM dapat memberikan persetujuan penggunaan darurat pada akhir Januari dan vaksin dapat digunakan di Februari 2021.

Harga vaksin sekitar Rp200 ribu per dosis. Vaksinasi lengkapnya butuh dua dosis.

Vaksin Sinopharm juga berasal dari Tiongkok. Vaksin ini juga telah berada pada fase 3 uji klinis yang penelitiannya dilakukan di Peru, Maroko, dan Uni Emirat Arab. Sama dengan vaksin Sinovac, laporan manfaat vaksin ini masih didasarkan pada uji fase 1 dan 2, di mana didapatkan adanya peningkatan kadar antibodi penerima vaksin ini.

Di Tiongkok, vaksin ini telah mendapat persetujuan darurat untuk digunakan bagi tenaga kesehatan dan petugas publik. Saat ini, vaksin itu telah diberikan kepada sekitar 1 juta penduduk di Tiongkok. Baru-baru ini, vaksin tersebut telah mendapat persetujuan penggunaan darurat di Uni Emirat Arab, dan sekarang digunakan pada populasi tenaga kesehatan. Tingkat efficacy-nya dilaporkan 86%. Harga vaksin sekitar Rp1.150.000 per dosis. Diperlukan dua dosis untuk setiap orang yang divaksinasi.

 

Memilah dan memilih

Dengan perbedaan spesifikasi ini, Indonesia harus memilih vaksin yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Meski keenam jenis vaksin dapat bermanfaat dalam penanggulangan covid-19, tidak semuanya dapat efektif dan efisien untuk kondisi Indonesia. Aspek-aspek keampuhan, dosis, cara transportasi dan distribusi, serta harga tentu harus dipertimbangkan.

Meskipun telah terkonfirmasi keampuhannya, kecil kemungkinan Indonesia akan menggunakan vaksin Pfizer dan Moderna sebagai vaksin utama. Alasannya, kedua vaksin ini membutuhkan fasilitas transportasi dan distribusi yang spesifik, yaitu cold storage, yang fasilitasnya tidak tersedia di negeri ini.

Pemerintah sempat menyebutkan akan mempertimbangkan kerja sama untuk perolehan kedua vaksin ini. Namun, tampaknya kemungkinannya kecil. Karena bila menggunakan kedua vaksin ini, pemerintah harus menyediakan fasilitas ultra-cold storage yang banyak dengan anggaran yang sangat besar.

Vaksin Astra-Zeneca kompatibel dengan keadaan Indonesia. Vaksin ini telah terkonfirmasi keampuhannya, harganya relatif tidak mahal, dan dapat disimpan pada suhu kulkas biasa. Meski belum memperoleh persetujuan penggunaan, besar kemungkinan dalam waktu dekat vaksin ini akan memperoleh persetujuan. Masalahnya, target produksi vaksin ini telah hampir habis diborong oleh berbagai negara meski vaksinnya sendiri belum diproduksi. Sekitar 90% target produksi vaksin ini di 2021 telah habis diborong oleh negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan negara-negara lain. Bila pemerintah ingin mendapat stok vaksin ini, perlu dilakukan negosiasi yang lebih intens dengan perusahaan vaksin.

Vaksin Sinopharm cukup kompatibel dengan kondisi Indonesia karena dapat disimpan pada suhu kulkas biasa yang banyak tersedia di Indonesia. Cuma kendalanya ialah harga yang cukup mahal. Untuk vaksinasi lengkap diperlukan Rp2.300.000, atau hampir 20 kali lipat harga vaksin Astra-Zeneca.

Vaksin Sinovac juga kompatibel dengan kondisi Indonesia. Vaksin ini dapat disimpan pada suhu kulkas biasa dan harganya relatif dapat diterima. Meski demikian, tingkat keampuhan vaksin ini belum terkonfirmasi. Bila hasil interim analysis report-nya menunjukkan adanya tingkat efficacy di atas 50%, dan tidak ditemukan efek samping yang serius, besar kemungkinan vaksin ini mendapat persetujuan penggunaan darurat Badan POM di akhir Januari 2020 dan dapat segera digunakan.

Bagi Indonesia, laporan perkembangan berbagai jenis vaksin merupakan berita menarik yang mengandung harapan. Harapan bahwa besar kemungkinan vaksin covid-19 dapat bermanfaat dalam penanggulangan pandemi. Artinya, di ujung gelapnya pandemi terlihat ada cahaya. Berita ini juga dapat menjadi argumen terhadap pihak-pihak tertentu yang masih menyangsikan efficacy vaksin, termasuk kelompok antivaksin dan pendukung teori konspirasi.

Dari enam jenis vaksin yang digadang-gadang oleh pemerintah, yang paling kompatibel dengan kondisi Indonesia ialah vaksin Sinovac dan Astra-Zeneca. Namun, untuk vaksin Sinovac, pemerintah harus menunggu laporan efficacy-nya dan persetujuan Badan POM. Adapun untuk vaksin Astra-Zeneca, pemerintah perlu melakukan negosiasi lebih intens dengan pihak Astra-Zeneca karena sebagian besar target produksi 2021 telah hampir habis diborong. Upaya ini penting agar saat vaksin benar-benar tersedia, kita jangan sampai tidak mendapat jatah. Seperti yang pernah terjadi pada outbreak flu burung dulu.

Baca Juga

Dok.ui.ac.id

Meniti Harapan di Tahun 2021

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Senin 18 Januari 2021, 05:15 WIB
 Tidak bisa dimungkiri bahwa tahun 2020 adalah tahun penuh...
Dok.ui.ac.id

Menjelang Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

👤Ari Fahrial Syam Guru Besar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 🕔Senin 11 Januari 2021, 05:10 WIB
SAAT ini, beberapa negara sudah mulai memberikan vaksin covid-19 kepada...
saifulmujani.com

Optimisme Publik Menatap Indonesia 2021

👤Deni Irvani Peneliti Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) 🕔Senin 04 Januari 2021, 05:25 WIB
WABAH covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 dipercaya berdampak pada berbagai dimensi kehidupan personal ataupun kolektif umat manusia...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya