Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI fisik yang tidak sempurna sejak lahir sering kali menjadi beban berat, baik secara fisik maupun psikis. Hal ini dialami oleh Intan Permatasari, seorang pasien yang selama 21 tahun harus hidup dengan kondisi kaki pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV). Kondisi bawaan ini menyebabkan kedua kakinya mengalami deformitas atau bengkok, yang dalam istilah medis sering disebut sebagai kaki pengkor.
CTEV merupakan kelainan ortopedi pada kaki yang muncul sejak bayi baru lahir. Pada kasus Intan, kondisi ini bertahan hingga ia menginjak usia dewasa, yakni sekitar 21 tahun. Selama dua dekade lebih, Intan harus beraktivitas dengan keterbatasan mobilitas yang signifikan.
Dalam penjelasannya, dr. Alfa Januar Krista, Sp. OT (Ahli Bedah Kaki dan Pergelangan Kaki), M.Kes, ICS, AIFO-K memaparkan bahwa akibat kelainan ini, Intan selama 21 tahun berjalan menggunakan punggung kaki atau yang sering disebut dengan istilah dorsum pedis. Kondisi kaki yang tidak menapak sempurna atau dengkok ini membuatnya sering terjatuh dan kesulitan menjaga keseimbangan. Masalah tersebut tidak hanya menghambat aktivitas harian, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi dirinya sejak kecil.
Langkah besar diambil Intan saat ia memutuskan untuk menjalani operasi di bawah penanganan dr. Alfa Januar Krista. Karena pasien sudah berusia dewasa, prosedur yang dilakukan adalah operasi rekonstruksi besar.
Proses penyembuhan dilakukan secara bertahap dan terukur, dimulai dari kaki kiri terlebih dahulu. Tim medis melakukan pemotongan pada bagian yang menghambat posisi kaki, kemudian melakukan rekonstruksi pada seluruh struktur tulang kaki agar bisa kembali ke posisi fungsional. Segala jaringan yang terbuka selama operasi ditutup kembali dengan presisi guna memastikan pasien dapat melangkah secara normal di masa depan. Dr. Alfa menekankan bahwa hasil yang dicapai Intan adalah buah dari penerapan sains medis yang disiplin.
Hasil dari intervensi medis ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Pasca-operasi, Intan mulai menjalani masa rehabilitasi untuk belajar berjalan kembali dengan posisi kaki yang baru. Hanya dalam waktu sekitar 2 bulan setelah prosedur, Intan sudah menunjukkan kemajuan signifikan dalam berjalan. Enam bulan setelahnya, ia telah mampu beraktivitas dengan jauh lebih baik dan bisa hadir langsung tanpa bantuan alat berat. Keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan fisik, melainkan juga pemulihan kondisi psikisnya yang sempat terganggu selama bertahun – tahun.
Sepanjang hidupnya, kondisi fisik ini menyebabkan Intan sering mengalami kesakitan dan jatuh, yang secara langsung menyerang sisi psikologisnya. Sejak kecil, hambatan fisik ini membuatnya tumbuh dalam kondisi tidak percaya diri akibat sering menjadi sasaran olok-olok di lingkungannya. Melalui keberhasilan operasi ini, beban mental tersebut perlahan terangkat seiring dengan kemampuan fisik yang pulih.
"Ini pasti memang karena suka menjalani pasien kesakitan, sering jatuh juga mengalami psikologisnya sendiri. Bahkan dari kecil diolok-olok orang sehingga memilih untuk berubah melalui operasi bertahap," jelas dr. Alfa mengenai latar belakang psikis pasien. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved