Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Resmi Cerai, Raisa dan Hamish Daud Sepakat Co-Parenting, Ini Kiatnya

Nike Amelia Sari
17/12/2025 11:55
Resmi Cerai, Raisa dan Hamish Daud Sepakat Co-Parenting, Ini Kiatnya
Raisa dan Hamish resmi bercerai Senin (15/12/2025).(Instagram @raisa6690)

PERNIKAHAN Raisa Andriana dan Hamish Daud resmi berakhir. Pengadilan Agama Jakarta Selatan mengabulkan gugatan cerai yang diajukan Raisa, sekaligus menandai akhir delapan tahun perjalanan rumah tangga mereka.

 

Perceraian Raisa dan Hamish resmi dijatuhkan secara verstek Senin (15/12), karena Hamish selaku tergugat tidak pernah hadir dalam agenda persidangan. Informasi tersebut dibenarkan oleh kuasa hukum Raisa, Putra Lubis.

 

Selain perceraian, perhatian publik juga tertuju pada pengasuhan anak mereka, Zalina Raine Wyllie. Putra Lubis mengungkapkan bahwa Raisa dan Hamish telah menyepakati pengaturan hak asuh di luar pengadilan. Keduanya memilih menjalani co-parenting atau pengasuhan bersama meski telah berpisah.

 

Apa itu co-parenting? Psikolog keluarga, Iswan Saputro, M.Psi., menjelaskan bahwa co-parenting merupakan pola pengasuhan anak secara bersama oleh kedua orangtua setelah bercerai.

 

“Dalam co-parenting anak menjadi prinsip atau kepentingan utama dalam memberikan pengasuhan. Jadi prinsipnya, anak tetap dapat kasih sayang dari orangtua, baik ibu dan ayah, walau status keduanya telah bercerai,” jelasnya, seperti dikutip dari situs kesehatan, Klik Dokter.

 

Dalam praktiknya, kedua orangtua tetap aktif terlibat dalam kehidupan anak agar perceraian tidak membuat anak kehilangan peran ayah atau ibu. Psychology Today menyebutkan bahwa pola ini ideal karena anak dapat tumbuh lebih baik saat tetap menghabiskan waktu signifikan bersama kedua orangtuanya.

 

Kiat Sukses Co-parenting

1. Utamakan Kepentingan Anak

Orangtua perlu menekan ego dan fokus pada kebutuhan serta kesejahteraan anak agar pengasuhan berjalan sehat.

 

2. Bangun Kompromi

Kesepakatan diperlukan terkait pola asuh, waktu bersama, dan tanggung jawab masing-masing, dengan saling memahami kondisi satu sama lain.

 

3. Jaga Komunikasi Positif

Hindari menyalahkan atau merendahkan mantan pasangan, terutama di depan anak. Komunikasi sebaiknya bersifat kooperatif dan rasional.

 

4. Jangan Libatkan Anak dalam Konflik

Anak tidak seharusnya menjadi bagian dari persoalan orangtua karena dapat berdampak buruk pada kondisi psikologisnya.

 

5. Saling Berbagi Informasi

Orangtua perlu terbuka soal kondisi dan aktivitas anak, termasuk perubahan besar dalam kehidupannya, demi konsistensi pengasuhan.

 

Dengan pendekatan yang tepat, co-parenting dapat menjadi solusi terbaik agar anak tetap tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian meski orangtuanya telah berpisah. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik