PRESIDEN Suriah Bashar al-Assad mengungkapkan perdamaian hanya akan terwujud di negaranya jika Barat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah berhenti 'mendukung teroris'. Hal tersebut diutarakan pemimpin Suriah tersebut kepada Czech TV, Selasa (1/12). Ketika ditanya apa yang bisa mengakhiri krisis peperangan yang menghancurkan Suriah, Al-Assad menyatakan, "Ketika negara-negara yang saya sebut, seperti Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, dan sejumlah lain, berhenti menyokong para teroris." Sejak gerakan revolusi mencuat di Suriah, yang juga didorong gerakan Arab Spring, negara-negara yang disebut Assad tadi menuntut sang Presiden turun dari kursi presiden.
Negara-negara tadi juga mendukung kelompok pemberontak dalam melawan tentara pemerintah Suriah. Al-Assad secara sistematis melabeli semua penentangnya, baik yang mengangkat senjata maupun yang tidak, sebagai 'teroris'. Ia juga menuduh kekuatan Barat dan kawasan menginginkan ia menanggalkan jabatan dengan mendukung pihak teroris. Dalam beberapa bulan terakhir, rezim Al-Assad mendapat dukungan militer dan perlengkapan dari Rusia dan Iran. Moskow secara intensif melancarkan serangan udara sejak September untuk menyokong pergerakan pasukan Suriah di darat dan Al-Assad menyebut itu sangat membantu melawan kelompok yang dia sebut teroris.
Sebaliknya, kekuatan Barat dan negara-negara di Teluk Arab menuduh operasi Rusia sesungguhnya tidak menargetkan kelompok teroris seperti Islamic State (IS) sebagaimana diklaim Moskow, tetapi menyasar kelompok moderat yang justru mereka sokong. "Jika kalian ingin melawan dan mengalahkan mereka (teroris), Anda harus memotong dan melemahkan perlengkapan, persenjataan, dan uang mereka, yang umumnya datang melalui Turki dan dengan dukungan orang-orang Saudi dan Qatar," kata Al-Assad. Politikus Partai Ba'ath Suriah yang telah memerintah selama 15 tahun itu mengakui kehadiran Rusia di medan tempur Suriah telah membuat kelompok yang pro pada oposisi Suriah kehilangan cengkeraman. Ia menyebut Turki telah bermain api dengan menembak jatuh pesawat tempur Rusia, 24 November lalu.
Harus mundur Amerika Serikat (AS) dan negara Barat lain yang tergabung dalam koalisi internasional melawan IS, yakni kelompok milisi yang mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan di Paris 13 November, telah lama berkeras menuntut Al-Assad mundur sebagai bagian dari solusi politik untuk konflik Suriah. Prancis berkukuh tentang sikap oposisinya terhadap Al-Assad. Paris menggambarkan sang presiden sebagai 'pembantai' rakyatnya sendiri di tengah perang sipil yang telah menewaskan seperempat juta jiwa dan memunculkan jutaan pengungsi yang menjadi krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II.
Presiden Prancis Francois Hollande menegaskan tekadnya untuk melihat Al-Assad mundur. Pemimpin Prancis itu menyatakan Al-Assad tidak bisa menjadi bagian dari solusi politik Suriah. Di Berlin, Jerman, Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen menyatakan militer Jerman akan terlibat secara aktif dalam operasi melawan kelompok IS di Suriah dan berencana mengirim 1.200 personel. Namun, tegas dia, Berlin tidak bisa bekerja sama dengan militer rezim Al-Assad. Sementara itu, parlemen Inggris akan melakukan pemungutan suara untuk menentukan dukungan bagi serangan udara terhadap IS di Suriah, yang diinisiasi pemerintahan Perdana Menteri David Cameron.