Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Dikembalikan ke Sungai, Diolah Jadi Energi

AFP/Andhika Prasetyo/I-1
03/12/2015 00:00
Dikembalikan ke Sungai, Diolah Jadi Energi
(AFP/NICHOLAS KAMM)
AROMA WC yang tersumbat semerbak di udara.

Itu mungkin wajar saja karena itulah Blue Plains, yakni fasilitas pengolahan air limbah Washington DC, ibu kota Amerika Serikat (AS).

Di fasilitas itu, salah satu proyek terbesar di dunia tengah digarap, yakni mengolah limbah manusia menjadi energi listrik.

"Di sinilah energi hijau diproduksi," ujar Chris Peot, direktur pemulihan sumber daya pada pelayanan penyedia air di Washington DC, DC Water, yang mengoperasikan fasilitas Blue Plains itu.

Di sana, 370 juta galon atau sekitar 1.400 juta liter air limbah dari lebih dari 2 juta rumah warga dikumpulkan setiap hari.

Limbah dalam jumlah besar itu lantas dibersihkan dengan memanfaatkan organisme mikro.

Organisme mikro menyaring limbah dengan cara menyerap karbon dan mengubah nitrat menjadi nitrogen.

Setelah tahap pembersihan air limbah tuntas, air yang sudah bersih lagi itu dialirkan kembali ke Sungai Potomac atau Teluk Chesapeake, tanpa memunculkan kekhawatiran ekosistem bakal terganggu.

Untuk limbah padatnya, ada dua pilihan.

Limbah padat manusia bisa didaur ulang menjadi kompos, bisa juga dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik berdaya 10 megawatt.

Mengolah limbah padat manusia menjadi listrik itu baru diimplementasikan sekitar enam bulan silam.

"Kami mengekstraksi material organik dan mengubahnya menjadi metana. Ketika terbakar, metana menghasilkan tenaga yang digunakan untuk menjalankan pabrik ini," ujar Peot.

Secara teoretis, energi yang dihasilkan dari feses manusia itu cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 8.000 rumah.

Namun, praktiknya, energi listrik yang dihasilkan dari feses manusia tadi dialirkan langsung untuk mengoperasikan fasilitas pengolahan air limbah itu sendiri.

Pemimpin eksekutif DC Water, George Hawkins, menyatakan apa yang mereka lakukan itu ialah hal luar biasa yang dapat membantu planet ini berjuang melawan perubahan iklim.

"Kami mengubah air yang sudah menjadi limbah kemudian memanfaatkannya sebagai sumber daya," jelas Hawkins.

Selain menghemat uang, lanjut Hawkins, mereka pun bisa menghindari penggunaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

"Ini sangat hemat karena kami tidak perlu membeli listrik yang sebagian besar berasal dari batu bara," kata dia.

Fasilitas pengolahan air limbah itu baru diresmikan pada 5 Oktober yang lalu dengan nilai investasi US$470 juta yang bersumber dari pembayaran air dari warga.

Cara yang dilakukan di Blue Plains, menurut Todd Foley, chief strategy officer pada Dewan Energi Terbarukan AS, merupakan cara diversifikasi energi dan pengendalian biaya energi.

"Di masa depan, aktivitas sejenis ini akan semakin merebak dalam upaya menyelamatkan Bumi," Foley memprediksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya