JANJI mendiang Raja Abdullah untuk melibatkan wanita dalam pemerintahan segera terealiasi pada akhir tahun ini.
Pada 12 Desember mendatang, kaum hawa setempat akan berlomba memperebutkan jabatan publik dan bersaing dengan ribuan kandidat pria.
Pada Minggu (29/11) waktu setempat, sebanyak 900 wanita mulai berkampanye.
Tak hanya itu, untuk pertama kalinya, para perempuan di wilayah kerajaan Islam konservatif itu dapat menyalurkan hak suara mereka.
Namun, ternyata ada beberapa perempuan setempat yang tidak dapat izin menjadi kandidat pejabat publik.
'Saya telah dicoret sebagai kandidat pemilihan dewan,' tulis Loujain Hathloul dalam media sosial Twitter-nya.
Hathloul tidak bisa mencalonkan diri sebagai kandidat dewan.
Pasalnya, ia memiliki catatan pelanggaran hukum.
Pemerintah setempat memiliki peraturan perempuan dilarang mengemudi, sementara Hathloul nekat mengemudikan mobilnya.
Otoritas Saudi pernah menangkap dan menahan Hathloul lebih dari dua bulan.
Ia ditangkap karena melanggar peraturan dengan mengendarai mobil dari Uni Emirat Arab menuju Saudi pada Desember tahun lalu.
Ada rasa sesal dalam diri Hathloul.
Padahal, ia sangat menginginkan untuk meningkatkan persentasi partisipasi perempuan dalam pemilu.
Nasib serupa juga dialami aktivis, Tamadour al-Yami.
Ia mengatakan namanya juga dicoret dari daftar resmi kandidat dewan.
Sang aktivis itu menegaskan dirinya tidak diam dan berniat menggugat.
"Tetapi saya tidak berpikir ini akan mengubah segalanya."
Wanita lain yang mengalami perlakuan serupa juga dialami Nassima al-Sadah, aktivis hak asasi manusia.
Ia telah mengajukan diri sebagai kandidat dewan Kota Qatif.
Namun, jelang akhir penutupan nama kandidat, namanya mendadak lenyap.
"Saya tidak tahu kenapa," ucap Sadah yang pernah mendapat pelatihan tentang pemilu dari National Democratic Institute, organisasi nonprofit yang berpusat di Washington, AS.
Yang beruntung jika dibandingkan dengan tiga perempuan itu ialah kandidat dewan Kota Riyadh, Aljazi al-Hussaini.
Ia mulus menjadi kandidat dewan pada pemilu kali ini.
Bahkan, ia mengatakan tidak butuh izin dari suaminya.