MOBIL-MOBIL listrik tanpa pengemudi berlalu lalang dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Semua bangunan yang disinggahi juga hemat energi.
Pada setiap puncak bangunan terbentang panel-panel penghimpun energi matahari.
Arsitektur tradisional Arab tampak berpadu dengan teknologi modern.
Di celah sempit antargedung berwarna merah bata, terhampar lorong-lorong kecil yang teduh berkat naungan bayangan gedung.
Lorong-lorong itu membuat aliran udara terarah sehingga temperatur kota tetap sejuk.
Di ujung kota itu, terbentang pula yang disebut 'pertanian energi matahari'.
Panel-panel photovoltaic berkapasitas 10 megawatt dihampar. Di sanalah energi ramah lingkungan bersumber.
Itu merupakan Kota Masdar di tepian Abu Dhani, Uni Emirat Arab.
Penghuninya baru ratusan orang, kebanyakan para mahasiswa.
Padahal, saat diumumkan keberadaannya pertama kali pada 2007, Kota Masdar ditargetkan dihuni 40 ribu warga.
Namun, kompleks itu bukan kota biasa.
Di sanalah Badan Asosiasi Energi Terbarukan Internasional (IRENA) juga Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Masdar berada.
Kota itu pula yang menjadi garis depan upaya UEA dalam menciptakan energi terbarukan.
Langkah itu pun dipandang tidak biasa apalagi untuk negara penghasil sekaligus eksportir minyak seperti UEA.
Cadangan minyak di UEA mencapai 5,9% cadangan dunia, sedangkan gas alamnya meliputi 3,1%.
Penyingkapan cadangan minyak di UEA pada akhir 1950-an serta-merta mengubah wilayah itu menjadi kekuatan ekonomi.
Meski begitu, Pangeran Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan pernah mengingatkan bahwa tanker terakhir negara itu akan habis diekspor dalam 50 tahun mendatang.
Rupanya pimpinan UEA sadar minyak tidaklah abadi.
"Kami paham, supaya bisa mempertahankan kekuatan dalam sektor energi, kami harus berupaya menghasilkan energi terbarukan," kata Chief Executive Officer Masdar Ahmad Belhoul.
Masdar diambil dari nama perusahaan yang berinvestasi besar pada energi ramah lingkungan.
UEA, menurut kepala departemen kelestarian energi di Masdar, Nawal al-Hosany, memang ambisius untuk meningkatkan sumber-sumber dayanya dari industri hidrokarbon ke sektor terbarukan.
UEA menargetkan berinvestasi US$35 miliar untuk energi nonhidrokarbon pada 2020 termasuk US$20 miliar untuk proyek pembangkit nuklir Barakah yang berkapasitas 5,4 gigawatt.
"UEA menjadi satu-satunya negara anggota OPEC yang tidak hanya mengekspor minyak, tapi juga mengekspor energi terbarukan," tutur Al-Hosany.
Selama 5 tahun terakhir, UEA menyalurkan US$840 juta untuk proyek energi terbarukan di 25 negara.