PEMERINTAH Mali, kemarin, menetapkan masa berkabung selama tiga hari menyusul serangan yang dilakukan kelompok bersenjata di Hotel Radisson Blu di Bamako, ibu kota negara Afrika itu. Aksi berdarah itu menewaskan 27 orang.
Selain mengumumkan hari berkabung nasional, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita juga memberlakukan status darurat mulai Jumat (20/11) tengah malam hingga 10 hari ke depan.
Tidak lama setelah penyerangan dilakukan, kelompok bersenjata Al-Murabitoun yang berafiliasi dengan Al-Qaeda mengklaim menjadi pihak yang bertanggung jawab.
"Kami, Murabitoun, dengan partisipasi saudara-saudara kami dari Al-Qaeda, mengklaim operasi penyanderaan di Hotel Radisson," ungkap kelompok itu melalui sebuah rekaman suara yang disiarkan Stasiun Televisi Al-Jazeera.
Al-Murabitoun ialah kelompok radikal yang dipimpin Mokhtar Belmokhtar, salah satu petinggi Al-Qaeda di wilayah Libia.
Milisi yang dikenal dengan julukan 'si mata satu' itu sebelumnya dikabarkan telah tewas dalam serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Namun, hal itu dibantah Al-Qaeda. "Amat mungkin Belmokhtar berada di balik serangan Mali," ujar Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian.
Saat menanggapi insiden berdarah di Bamako, Presiden AS Barack Obama, yang satu warga negaranya menjadi korban, mengutuk keras aksi brutal tersebut. "Tindakan barbar ini hanya akan memperkuat dunia untuk menghadapi tantangan kekerasan dari pihak ekstremis," ujar Obama.
Hal serupa diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hong Lei yang menyatakan belasungkawa kepada keluarga dari korban.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon juga menyampaikan hal serupa dan menganggap serangan yang terjadi di Mali merupakan sebuah upaya menghancurkan proses perdamaian yang tengah dibangun di negara tersebut.
Dilaporkan, beberapa warga negara asing, seperti dari AS, Belgia, Rusia, dan Tiongkok menjadi korban dalam serangan di Bamako itu.