Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Selandia Baru Mulai Pilih Bendera Baru

AFP/Aya/I-1
21/11/2015 00:00
Selandia Baru Mulai Pilih Bendera Baru
()
WARGA Selandia Baru, kemarin, mulai memilih desain bendera baru melalui 3 juta kertas suara yang dikirim pemerintah ke 4,5 juta warga.

Pemilihan berlangsung hingga 11 Desember mendatang.

Ada lima pilihan desain yang ditawarkan.

Empat dari lima desain membubuhkan simbol daun pakis, sedangkan satu lagi disebut Puncak Merah, berupa segi tiga berwarna merah, hitam, dan biru.

Simbol Puncak Merah merupakan desain tambahan setelah memenangi kampanye di media sosial.

Desain yang terpilih nantinya akan diadu lagi melawan bendera yang sekarang pada referendum kedua yang digelar Maret tahun depan.

Wakil Perdana Menteri Bill English mengajak warga 'Negeri Kiwi' untuk memilih bendera yang diyakini mewakili kebanggaan, kepeloporan, dan masa depan ambisius Selandia Baru.

"Ini kesempatan sekali seumur hidup. Sangat jarang pemerintahan di dunia ini melibatkan pilihan warganya untuk desain bendera kebangsaan," kata dia.

Proyek perubahan desain bendera ini merupakan rencana Perdana Menteri John Key sejak tahun lalu.

Key beralasan lambang Inggris, Union Jack, yang ada pada bendera saat ini, tidak menjunjung nama Selandia Baru.

Empat bintang merah dengan latar belakang biru gelap pun dianggap mirip bendera Australia.

Referendum perubahan bendera ini menelan biaya senilai US$16,4 juta atau Rp225,31 miliar.

Jajak pendapat bulan lalu memprediksi lambang daun pakis dengan latar belakang merah dan biru akan memenangi referendum pertama.

Namun, pada referendum kedua, bendera yang sekarang diperkirakan akan menang dengan raihan 65% suara.

Meski Selandia Baru telah merdeka dari Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II tetap menjadi kepala negara.

Namun, kekuatan tersebut dipandang bersifat simbolis semata dan monarki pun dinilai merupakan peninggalan kolonial.

Bendera Selandia Baru yang sekarang ini mulai digunakan awal 1900-an di tengah semangat patriotik Selandia Baru selama mengirim pasukan dalam perang Anglo-Boer di Afrika Selatan.

Kelompok veteran Returned and Service's Association (RSA) menyebut referendum penggantian bendera itu buang-buang uang.

"Warga bisa menulis 'Saya mendukung bendera yang sekarang' di kertas suara," kata Ketua RSA BJ Clark.

RSA berargumen perubahan bendera tidak menghormati perjuangan pasukan yang gugur di medan perang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya