SEMINGGU setelah teroris menyerang Paris, Prancis, dan menewaskan 129 orang, kelompok bersenjata menebar teror di Mali.
Mereka menyerbu Hotel Radisson Blu di Bamako, ibu kota negara Afrika itu, kemudian menyandera 140 tamu dan 30 pegawai hotel.
Setidaknya delapan turis asal Tiongkok menjadi korban.
Kantor berita Xinhua memberitakan dua di antara mereka memiliki nama keluarga Chen dan Wang.
Sandera lain ialah 20 warga India.
Adapun pejabat Turki mengklaim enam personel Turkish Airlines menjadi korban penyaderaan.
Begitu pula dua pilot dan 10 kru kabin Air France turut menjadi sandera.
Paling tidak tiga sandera tewas dalam aksi brutal tersebut, namun identitas mereka belum diketahui.
Menurut seorang saksi mata, peristiwa menakutkan itu terjadi pagi hari.
Suara ledakan dan tembakan terdengar hingga di luar kompleks hotel, bahkan sampai pusat kota pada pukul 07.00 pagi waktu setempat ketika pelaku beraksi.
Saksi mata lainnya, Garba Konate, menuturkan 10 pria bersenjata tiba di hotel mewah itu dan langsung menembak semua penjaga di depan hotel.
Menurut salah satu penjaga keamanan, mereka memasuki area hotel dengan menggunakan mobil berpelat nomor diplomatik.
Sesaat setelah penyanderaan terjadi, tentara dan polisi Mali tiba di tempat kejadian bersama pasukan Badan Perdamaian PBB di Mali serta pasukan Prancis di Afrika Barat di bawah Operasi Barkhane.
Hingga tadi malam, mereka berhasil membebaskan sekitar 80 sandera.
Menteri Keamanan Mali, Salif Traore, menambahkan, 30 sandera lainnya berhasil melarikan diri.
"Pasukan khusus kami telah membebaskan beberapa sandera dan 30 lainnya berhasil melarikan diri. Kami terus berusaha mengatasi situasi," kata Traore.
Pihak perusahaan dari Grup Radisson asal Amerika Serikat mengonfirmasi insiden tersebut.
"Tim keamanan dan tim korporat kami terus-menerus menghubungi otoritas lokal untuk menawarkan bantuan yang mungkin dilakukan untuk mengembalikan keselamatan dan keamanan di hotel," ujarnya.
Aksi penembakan disertai penyanderaan pernah terjadi di hotel di Sevare, Mali tengah, Agustus lalu. Dalam insiden itu, lima pekerja PBB tewas bersama empat tentara dan empat penyerang.
Serangan demi serangan terus menghantam Mali meski Juni lalu bekas pemberontak Tuareg dan kelompok bersenjata propemerintah sepakat berdamai.
Sebelumnya, pada Maret-April 2012, milisi Al-Qaeda menduduki Mali utara sebelum diberangus lewat operasi militer Prancis pada 2013.