Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Senjata Rahasia Polisi Manila Bubarkan Demo dengan Lagu

Haufan Hasyim Salengke
20/11/2015 00:00
Senjata Rahasia Polisi Manila Bubarkan Demo dengan Lagu
(AFP/Jay DIRECTO)
RIBUAN pengunjuk rasa kelompok aktivis sayap kiri Bagong Alyansang Makabayan atau Aliansi Patriotik Baru berkumpul di depan Philippine International Convention Center, Manila, Filipina, kemarin, tempat digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Asia Pasifik (APEC) 2015. Mereka menyerukan slogan-slogan We will struggle! dan Junk APEC!.

Kelompok hak asasi manusia dan proburuh memprotes KTT APEC serta menyebutnya hanya menguntungkan perusahaan multinasional dan negara-negara kaya dengan mengorbankan negara berkembang. "Demonstrasi ini tidak akan berhenti! Kami ingin seluruh dunia tahu betapa banyaknya rakyat Filipina yang memuntahi APEC!" seru Charisse Bernadine Banez, ketua kelompok aktivis Liga Mahasiswa Filipina.

Suasana lantas memanas. Polisi antihuru-hara dengan peralatan keamanan lengkap, termasuk helm, perisai, dan tongkat kayu menembakkan meriam air ke kerumunan demonstran yang hendak menerobos barikade berjarak sekitar 1 km dari tempat penyelenggaraan KTT APEC. Saat itulah polisi mengerahkan senjata rahasia, yakni menyetel lagu Roar dari penyanyi Katy Perry dengan volume suara sekencang-kencangnya.

Dalam sekejap, hentakan musik seakan mencabik-cabik telinga para pengunjuk rasa sekaligus menenggelamkan sejumlah slogan yang mereka teriakkan. Polisi lantas memutar pula Islands in The Stream yang didendangkan Dolly Parton, dilanjutkan dengan lagu David Guetta Sexy Bitch, serta How Deep Is Your Love? dari Bee Gees. Sejumlah polisi bahkan ikut memukul-mukul tongkat ke perisai sesuai dengan irama lagu yang diputar.

Anggota parlemen sayap kiri Carlos Isagani Zarate pun berang atas aksi polisi itu. "Ini sungguh konyol!" ucapnya marah. Para demonstran lain sama kesalnya. Mereka menuding pemerintah hendak membungkam suara mereka yang ditujukan menentang kebijakan perdagangan bebas yang diusung APEC. "Kami ingin suara kami didengar!" seru petani mangga Candelario Rusasena, 60.

Namun, ada pula demonstran yang justru geli begitu mendengar lagu-lagu yang diputar polisi. "Ini sebenarnya amat tidak sopan," ucap pengunjuk rasa lain, petani beras Redo Pena, 54, sembari menyeringai.

Cara itu disebut juru bicara Kepolisian Metro Manila Kimberly Gonzales sebagai upaya polisi meredakan suasana. "Warga Filipina umumnya senang musik dan musik memberi efek menenangkan buat semua. Ini pun sejalan dengan kebijakan toleransi maksimal yang diterapkan pada demonstrasi," jelas dia.(I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya