PEMERINTAH Brasil, kemarin, mengumumkan keadaan darurat di lebih dari 200 kota yang terkena tumpahan limbah mematikan akibat jebolnya dua bendungan limbah tambang di selatan negara tersebut.
Bendungan limbah di pertambangan bijih besi Samarco di Marina runtuh pada 5 November, menyebabkan tanah longsor. Pihak berwenang telah mengonfirmasi setidaknya 11 orang tewas dan 15 lainnya hilang. Selain itu, sedikitnya tujuh desa hancur.
Pemerintah Negara Bagian Minas Gerais mengatakan longsoran lumpur menutupi aliran Sungai Rio Doce. Tumpahan limbah juga menyebabkan bencana lingkungan serta mengontaminasi air minum.
Samarco merupakan perusahaan patungan antara BHP Billiton, perusahaan tambang terbesar di dunia asal Australia, dan perusahan tambang bijih besi Brasil, Vale.
Menurut pihak berwenang, tumpahan limbah mengontaminasi sekitar 500 km sungai di tenggara Minas Gerais dan Negara Bagian Espirito Santo. Bahan beracun menghancurkan tanaman dan membunuh ikan, kura-kura, dan hewan lainnya.
Keadaan darurat akan diberberlakukan selama 180 hari agar korban mendapatkan akses terhadap bantuan, mempercepat penyebaran pekerja darurat, dan menggalakkan proyek infrastruktur serta membeli obat.
"Melalui langkah ini, kota-kota akan memiliki akses ke sumber daya negara bagian dan federal, baik keuangan dan kemanusiaan," ujar Kepala Bidang Tanggap Darurat Negara Bagian Ronilson Edelvan Caldeira de Sales.
Perusahaan Samarco, Rabu (18/11), berjanji akan membayar US$260 juta (Rp3,5 triliun) sebagai komitmen awal untuk pembersihan areal terdampak dan kompensasi bagi orang-orang yang menjadi korban.
Sementara itu, pengadilan memerintahkan ganti rugi tambahan sebesar US$78 juta dan pemerintah menjatuhkan denda sebesar US$67 juta. Pemerintah memperingatkan akan adanya denda tambahan akibat bencana itu.
"Negara berkomitmen meminta pertanggungjawaban mereka," tegas Presiden Brasil Dilma Roussef, Kamis (12/11).
Setelah mengestimasi ongkos pemulihan bencana, Deutsche Bank mengatakan, "Biaya yang dibutuhkan untuk membersihkan (areal terdampak limbah) bisa mencapai US$1 miliar (Rp13 triliun)."
Dua bendungan lagi Perusahaan pertambangan Samarco mengatakan dua bendungan lagi, yang mereka gunakan untuk menampung air limbah dari produksi besi, mengalami kerusakan dan berisiko runtuh.
Perusahaan menegaskan kerja darurat akan dilakukan untuk memperkuat dua benÂdungan yang berisiko jebol dengan blok batu dan prosesnya akan berlangsung hingga 90 hari atau tiga bulan.
Sebelumnya, Samarco meÂngonfirmasi dua bendungan milik mereka, Fundao dan Germano, runtuh pada 5 November. Namun, belakangan perusahaan tersebut mengklarifikasi hanya bendungan Fundao yang jebol.
"Germano dan bendungan lain di dekatnya, Santarem, masih berdiri, tapi berisiko," ujar Direktur Infrastruktur Samarco Kleber Terra.
"Kami sangat simpatik dan bingung dengan apa yang terjadi. Kami bekerja dengan teknisi pemantau bendungan terbaik, tapi kita tidak bisa mengatakan (bencana) itu seharusnya bisa dihindari," tandas Terra kepada surat kabar O Estado de S Paulo. (AFP/AP/BBC/I-2)