TIM investigasi yang menyelidiki serangkaian serangan di Paris, hingga Senin (16/11), telah mengidentifikasi lima dari tujuh orang yang terlibat dalam aksi brutal yang menewaskan 129 orang tersebut.
Empat dari mereka ditemukan tewas di lokasi kejadian, sedangkan satu orang lainnya masih buron.
Pelaku penyerangan yang pertama kali diidentifikasi adalah Omar Ismail Mostefai, 29. Ia diidentifikasi melalui jari terputus yang ditemukan aparat setempat di aula konser Bataclan Theatre.
Mostefai bersama tiga pelaku lainnya melakukan serangan membabi buta. Mostefai meledakkan dirinya dengan bom di lokasi yang tengah menggelar konser grup musik asal Amerika Serikat (AS), Eagles of Death Metal.
Melalui sidik jarinya, diketahui, pria berwarga negara Prancis itu lahir 21 November 1985 di wilayah kumuh Courcouronnes, selatan Paris. Pada kurun 2005-2012, ia tercatat sebagai penduduk di wilayah Chartres, masih di selatan Paris. Info dari Turki Mostefai diduga pernah melakukan perjalanan ke Suriah pada 2014, namun tidak terdeteksi di radar pemerintah. Sebelum insiden Paris, otoritas Turki mengungkapkan pihaknya telah dua kali memberi peringatan kepada pemerintah Prancis tentang status Mostefai yang berbahaya.
"Kami telah memberi tahu teman kami (Prancis) tentang Mostefai pada Desember 2014 dan Juni 2015, tapi kami tidak pernah mendapat balasan," ujar seorang pejabat Turki.
Pelaku yang teridentifikasi kedua adalah Samy Amimour. Ia bersama Mostefai menyerang konser musik di Bataclan. Sama seperti rekannya, Amimour juga mengakhiri hidupnya dengan meledakkan diri.
Pria 28 tahun itu sempat ditahan karena terlibat konspirasi terkait terorisme pada Oktober 2012. Akan tetapi, dia kemudian dibebaskan dengan jaminan.
Pelaku teridentifikasi ketiga ialah Brahim Abdeslam. Pria 31 tahun itu melancarkan serangan dan meledakkan dirinya di luar bar di Boulevard Voltaire.
Ia diduga menyewa sebuah mobil yang terdaftar di Belgia. Mobil tersebut, menurut beberapa saksi mata, digunakan untuk menyerang di sejumlah titik di Paris. Dalam mobil itu, ditemukan tiga senapan serbu Kalashnikov, lima amunisi penuh dan 11 amunisi lainnya kosong.
Nama Brahim Abdeslam beberapa kali muncul dalam catatan kepolisian. Ia diyakini terlibat dalam beberapa kasus kriminal di Belgia bersama milisi terkemuka AbdelÂhamid Abaaoud.
Pemerintah juga mengatakan Brahim tinggal cukup lama di wilayah kumuh Molenbeek, sebuah wilayah di Brussles, Belgia. Rumahnya telah dijadikan pondok dan tempat berkumpulnya milisi radikal.
Adapun, pelaku tewas terakhir yang teridentifikasi adalah Bilal Hadfi. Pria 20 tahun itu meledakkan dirinya di dekat Stadion Nasional Stade de France yang tengah berlangsung pertandingan sepak bola persahabatan antara Prancis dan Jerman. Tim penyelidik mengatakan Hadfi merupakan warga negara Belgia dan pernah menghabiskan waktunya di Suriah.
Pelaku lain yang telah teridentifikasi adalah Salah Abdeslam, 26. Ia melarikan diri dan tengah diburu aparat Prancis. Salah merupakan saudara termuda Brahim.
Sementara satu saudara lainnya, Mohammed Abdeslam, yang sebelumnya juga diduga terlibat dan sudah ditahan kepolisian Belgia, akhirnya dilepaskan tanpa tuntutan karena memiliki alibi kuat bahwa dirinya tidak berada di Paris ketika serangan berlangsung.
Satu nama terakhir yang didapat dari sebuah paspor Suriah dan sebelumnya dikaitkan dengan penyerangan, Ahmad al-Mohammad, saat ini masih dalam pemeriksaan.
Para penyelidik masih menyelidiki apakah paspor itu asli atau bukan. Pasalnya, polisi antiteror Prancis tidak memiliki catatan kriminal atas nama itu. Ahmad al-Mohammad saat ini tengah berada di Serbia dan dalam pemeriksaan pemerintah setempat.(AFP/I-3)