PADA Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 lalu di Antalya, Turki, pemerintah India sempat menolak komitmen pengurangan gas emisi yang akan jadi pembahasan dalam Pertemuan para Pihak (COP) Ke-21 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Paris, Prancis, 30 November-11 Desember mendatang.
India berpendapat negara-negara berkembang paling disalahkan atas perubahan iklim. Adapun desakan dunia supaya negara-negara berkembang itu memangkas emisi dipandang tidak adil dan munafik. "Tidak ada (negara) yang kontribusi-nya pada pemanasan global lebih sedikit daripada India dan Afrika. Tidak ada negara yang lebih sadar akan perubahan iklim daripada India dan Afrika," kata Perdana Menteri India Narendra Modi di Delhi, baru-baru ini.
Pada saat bersamaan, kondisi efek perubahan iklim di India termasuk paling buruk. Gletser di Pegunungan Himalaya mencair dengan cepat, lahan pertanian mengering, dan udara India dinobatkan sebagai yang paling kotor di dunia.
Di kawasan Pegunungan Himalaya Kashmir, setidaknya dua aliran gletser terbesar hilang. Air di kolam-kolam menyusut 27% padahal kebutuhan penduduk akan air sangat bergantung pada lebih dari 100 gletser.
"Pengaruh perubahan iklim di Kashmir sangat jelas. Penurunan aliran gletser amat signifikan," kata Shakil Ahmad Romshoo, pakar glasiologi, studi soal salju dan es, dari Universitas Kashmir.
Akibat kekurangan air, tanaman padi dialihkan menjadi tanaman apel yang butuh air lebih sedikit. Namun, tidak semua lahan cocok untuk tanaman apel. "Sudah tidak ada air pada saat kami membutuhkan air untuk musim tanam," ucap Haji Mohammad Rajab Dar di Desa Chandigam. Kini, petani berusia 70 tahun itu hanya bisa mengumpulkan 90 karung beras dalam setahun dari sawahnya. Padahal sebelum itu, dalam setahun dia bisa mengumpulkan 230-260 karung. "Kami bisa menjadi pengemis semua," tambah dia.
Selain itu, garis pantai di pesisir Gujarat menyusut. Selama satu dekade, menurut nelayan Ayub Hajji, hasil tangkapan ikan menurun 40%.
Penyakit pun melanda. Manu Madan, dokter di salah satu rumah sakit paru-paru di Delhi, mengaku setiap hari ada 600 pasien, kebanyakan anak-anak yang rentan terserang asma akibat udara kotor dari asap kendaraan.
Rencana aksi Warga memang tidak tahu banyak soal kompleksitas pemanasan global. Narayan Nipurte di Distrik Mumbai Utara, misalnya. Yang dia tahu pasti, kekeringan bakal membuat ia kesulitan memberi makan keluarganya. "Bakal tidak ada hujan selama beberapa musim. Kalau begini, apa yang bisa kita lakukan?" tanya Nipurte.
Fakta-fakta soal efek perubahan iklim itu lantas menggi-ring India mengajukan rencana aksi sesuai dengan target COP 21 yang menetapkan penaikan suhu bumi 2 derajat celsius. Dalam rencana aksinya, India berjanji mengurangi intensitas karbon sebesar 35% pada 2030, bukan pemangkasan mutlak emisi.
Berdasarkan lembaga World Resources Institute, secara global India merupakan negara dengan kontribusi karbon paling banyak ketiga meskipun emisi per kapitanya hanya sepertiga rata-rata dunia. (AFP/I-1)