HELENE Lagoutte tengah berada di Place de la Republique, Paris, Prancis. Pada hari itu, Minggu (15/11), dia mengajak anak perempuannya, Jeanette, 4, melihat orang-orang menyalakan lilin dan menuliskan pesan di kaki patung raksasa Marianne, sosok wanita yang mewujudkan nilai-nilai sekuler di Prancis. Mereka melakukan itu sebagai ungkapan dukacita atas insiden serangan mematikan yang terjadi di beberapa wilayah di Paris, Jumat (13/11). Keharuan pun merebak. Namun, dalam sekejap, semua berubah menjadi kepanikan. Para warga yang sedang berkumpul itu berlarian ke berbagai penjuru.
Suara ledakan. Itulah yang membuyarkan kerumunan manusia di sana. Sesaat kemudian, orang-orang menyadari bahwa suara itu bersumber dari petasan, bukan ledakan bom seperti yang mereka takutkan. Sebagian besar warga Paris memang masih trauma atas insiden yang terjadi beberapa hari lalu. "Kami sedang bernyanyi bersama saat tiba-tiba orang-orang berlarian, jadi kami ikut berlari," ujar Laurine yang juga berada di Place de la Republique untuk meletakkan karangan bunga dan lilin sebagai bentuk belasungkawa. Beberapa blok dari Place de la Republique itu, kejadian serupa pun memantik kecemasan warga.
Sebuah bola lampu tiba-tiba meledak di rumah warga. Sontak para pejalan kaki di sekitarnya melarikan diri. Lagi-lagi, warga mengira ada serangan baru. "Benar, rasa takut masih terasa menghantui warga. Orang-orang panik dan berlarian. Bahkan ada yang melompat ke saluran air," kata seorang petugas keamanan yang bergegas tiba di sana. Lagoutte mengakui trauma itu masih dirasa warga Paris termasuk dia. "Tapi bukan karena jumlah korban dalam serangan kali ini lebih banyak daripada sebelumnya," kata dia mengacu pada serangan di kantor tabloid Charlie Hebdo, Paris, Januari silam. Warga masih trauma, sambung Lagoutte, "Karena semua orang jadi target.
Bukan Yahudi saja, bukan jurnalis saja, melainkan semua." Karena itu, ucapnya, semua orang harus bersatu tanpa pandang bulu. Lagoutte juga berharap para muslim di Prancis dan para pemuka agama bersuara dan menegaskan bahwa itu bukanlah aksi mereka. "Saya berusaha meyakinkan anak-anak saya bahwa ini bukanlah aksi muslim karena mereka pun punya banyak teman muslim dan saya tidak ingin anak-anak menyalahkan teman mereka atas insiden ini," ucap ibu dua anak itu. Tidak jauh dari posisi Lagoutte dan anak perempuannya, seorang petugas kebersihan kota bernama Mehdi, 43, rupanya mendengar ucapan Lagoutte itu. Laki-laki muslim itu mengaku sulit tidur sejak sederet serangan terjadi di Paris dan menyebabkan tewasnya 129 orang itu.
"Saya mencemaskan efek serangan ini terutama bagi anak cucu kami kelak yang menjadi generasi ketiga migran di Prancis. Kami juga warga Prancis," kata dia. Mehdi lantas terisak sembari bertutur, "Teman-teman saya harus tahu bahwa (serangan) ini bukanlah arti seorang muslim. Saya ingin merangkul mereka semua dan bilang bahwa saya pun amat berduka." Di sudut lain kota, di dekat restoran Petit Cambodge dan kafe Carillon yang juga menjadi target serangan Jumat (13/11), sekumpulan warga pun meletakkan lilin dan bunga sebagai bentuk dukacita.
Saat ditanya anak perempuannya yang berusia 11 tahun, ketika melintas di sana, Benedicte Joffre, menuturkan bahwa orang-orang sedang bersedih, tapi dia tidak punya jawaban yang lebih rinci untuk anaknya itu. Joffre mengaku khawatir reaksi yang muncul dari serangan itu bisa memperlebar jurang sosial di Prancis. Maka dia berpendapat nilai-nilai demokrasi bangsa layak diperjuangkan. "Inilah yang diperjuangkan nenek moyang kita dan kita pun harus meneruskannya," tutur dia.