SERANGKAIAN serangan kelompok ekstremis Islamic State (IS) di Paris yang menewaskan 129 orang, Jumat (13/11) lalu, tidak membuat Prancis menciut dan menghentikan operasi di wilayah Suriah. Kebrutalan IS tersebut justru memicu pemerintah Prancis semakin giat melancarkan serangan dI Suriah. Pesawat-pesawat tempur Prancis, Minggu (15/11), dilepaskan untuk membombardir Raqqa, sebuah kota yang diklaim IS sebagai ibu kota mereka di Suriah. Tidak tanggung-tanggung, dalam serangan terbaru itu, 'Negeri Mode' itu mengerahkan 12 pesawat tempur sekaligus yang lepas landas dari Uni Emirat Arab dan Yordania.
Kementerian Pertahanan Prancis mengatakan serangan itu menghancurkan beberapa tempat vital IS, seperti pos komando dan perekrutan, depot amunisi, serta kamp pelatihan. Di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Antalya, Turki, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius menegaskan serangan yang dilakukan ke Raqqa ialah hal yang wajar. "Mengingat kami tidak hanya diancam, tapi juga diserang, lumrah bagi Prancis untuk mengambil langkah balasan," tegas Fabius seperti dilansir BBC. Gempuran itu, ungkap pria 69 tahun tersebut, penting dalam upaya pertahanan diri.
"Kami memilih untuk mengambil aksi. Kami telah melakukannya pada masa lalu dan kami melakukannya hari ini, lantaran Raqqa ialah pusat komando IS. Kami tidak bisa berdiam diri saat diserang, seperti yang Anda lihat dalam tragedi di Paris," lanjut Fabius. Serangan itu dilancarkan sebagai realisasi dari komentar Presiden Prancis Francois Hollande yang mengutuk serangan Paris dan membulatkan tekadnya untuk menyerang balik IS tanpa ampun. Menanggapi serangan balasan itu, berdasarkan pernyataan media ekstremis Amaaq, IS menyebut upaya Prancis di sekitar Raqqa hanya mengenai beberapa situs yang sudah lama terbengkalai dan tidak menewaskan satu pun pasukan IS.
Peringatan intelijen Sementara itu, serangan yang terjadi di Paris, menurut beberapa pejabat pemerintah Irak, bukan hal yang mengagetkan. Pasalnya, mereka telah memberikan peringatan kepada negara-negara koalisi tentang kemungkinan adanya serangan yang dilakukan IS. Peringatan tersebut disampaikan satu hari sebelum serangan Paris terjadi. "Intelijen Irak sudah mengirim pesan yang berisi informasi dari sumber IS. Kami memberi tahu bahwa pemimpin kelompok IS, Abu Bakr al-Baghdadi, telah memerintahkan serangan melalui pengeboman atau pembunuhan atau penyanderaan terhadap negara-negara koalisi yang melawan mereka di Irak dan Suriah," ujar salah seorang pejabat Irak membacakan pesan tersebut.
Namun, pejabat yang enggan diungkap identitasnya itu tidak memiliki informasi terkait kapan dan di mana tepatnya IS akan melancarkan serangan. Ia juga menyebutkan terdapat 24 orang yang terlibat dalam serangan tersebut. "Berdasar informasi yang kami dapat, ada 19 penyerang dan lima orang lainnya yang bertanggung jawab atas logistik dan perencanaan," lanjutnya. Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim Al-Jaafari mengatakan berdasarkan informasi yang disampaikan intelijennya, Prancis, Amerika Serikat, dan Iran merupakan negara yang terindikasi paling besar menjadi target serangan IS.
"Sumber dari intelijen Irak memperoleh informasi bahwa beberapa negara akan menjadi sasaran IS, terutama Prancis, AS, dan Iran. Ketiga negara telah diberitahu hal ini," kata Jaafari dalam sebuah pernyataan yang dilansir AFP, Minggu (15/11). Juru Bicara Kementerian Irak Ahmed Jamal menambahkan, informasi dari intelijen di negaranya terkait dengan target sasaran IS, telah diperoleh sejak bulan lalu. Namun, ia menolak menjelaskan secara rinci soal informasi tersebut.