Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Unjuk Rasa Minim Busana

AFP/I-1
16/11/2015 00:00
Unjuk Rasa Minim Busana
(AFP/CHRISTOPHE SIMON)
RATUSAN perempuan berbondong-bondong memenuhi jalan di tepian Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil.

Mereka mengenakan pakaian seminimal mungkin, dengan beberapa orang bahkan bertelanjang dada.

Sejumlah papan dan lembar-lembar karton bertuliskan kalimat protes diangkat tinggi-tinggi.

Pada Sabtu (14/11) siang itu, sekitar 300 orang, hampir semuanya perempuan yang tergabung gerakan bernama Slut Walk menggelar jalan bareng sebagai bentuk unjuk rasa.

Mereka memprotes opini yang berkembang di masyarakat yang menyatakan bahwa gaya berpakaian perempuanlah yang memunculkan aksi-aksi kejahatan seksual.

Salah satu peserta unjuk rasa itu, Stephanie Ruas, 26, mengaku hadir di situ dengan alasan yang pilu.

"Kami terancam aksi kejahatan di mana-mana. Ya di sekolah, ya di tempat kerja," tuturnya. Brasil, kata dia, merupakan salah satu tempat terburuk sedunia bagi perempuan untuk berjalan sendirian.

Menurut hasil studi yang didasarkan data dari Kementerian Kesehatan Brasil, awal November ini, di 'Negeri Samba' itu, seorang perempuan terbunuh setiap dua jam.

Dari situ disimpulkan bahwa Brasil menjadi negara paling berbahaya sekaligus mematikan bagi perempuan peringkat lima setelah El Salvador, Kolombia, Guatemala, dan Rusia.

Studi lain dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyebut bahwa di kota terbesar Brasil yakni Sao Paulo, seorang perempuan mengalami serangan setiap 15 detik.

Menurut pengunjuk rasa lain, Indara Costa, 18, "Laki-laki di Brasil sini menganggap kami ini, perempuan, hanyalah objek. Kami ingin bisa melakukan apa yang kami inginkan tanpa mengalami penganiayaan atau penyerangan."

Demonstran lainnya, yakni Eliene Juffa, 43, yang mengenakan atasan bikini dan celana pendek jins berpendapat seorang presiden perempuan yang memimpin Brasil pun, yakni Dilma Rousseff, dirasa tidak berpengaruh.

"Orang-orang yang duduk di Kongres, orang-orang yang membuat aturan hukum, itu konservatif dan hampir semuanya laki-laki," kata Juffa yang merupakan dosen filosofi itu.

Meskipun unjuk rasa serupa itu sudah kelima kalinya, tampaknya belum ada efek berarti yang muncul dari demonstrasi itu.

Penyelenggaraan demonstrasi para perempuan itu pun dianggap tidak mengganggu aktivitas para pelancong di Rio de Janeiro.

Sejumlah turis mengabadikan barisan perempuan pedemo itu lewat kamera mereka dan barisan polisi pun berjaga di tepian jalan.

Salah satu yang paling girang berkat demonstrasi minim busana itu ialah seorang penjual minuman dingin.

"Saya amat menghargai mereka. Memang, semua orang kan punya hak atas penampilan dan tubuh mereka. Mereka juga banyak minum sehingga dagangan saya laris hari ini," tutur si pedagang dengan tersenyum lebar.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya