SERANGKAIAN serangan mematikan yang terjadi di beberapa wilayah di Prancis dan diklaim sebagai aksi kelompok ekstremis Islamic State (IS) telah membuat dunia bersatu.
Presiden AS Barack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, serta para pemimpin dunia lainnya yang tergabung dalam G-20, pada Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Antalya, Turki, mendeklarasikan bahwa mereka bersama-sama mengecam dan mengutuk aksi terorisme.
"Bersama Prancis, kami berdiri dalam solidaritas untuk memburu para pelaku kejahatan ini dan membawa mereka ke pengadilan," ujar Obama seusai bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, kemarin.
Obama mengutuk semua aksi kejahatan, termasuk bom bunuh diri ganda yang terjadi bulan lalu di Ankara, Turki, dan bersumpah melipatgandakan seluruh upaya untuk menghancurkan jaringan IS.
Pembantaian yang menewaskan 129 orang di Paris sangat memengaruhi situasi pertemuan puncak G-20.
"Semua pemimpin mengutuk serangan di Paris. Saya yakin sikap kita terhadap terorisme internasional akan terjawab di KTT G-20 ini," ujar Erdogan yang merupakan tuan rumah KTT G-20.
"Karena semuanya bersatu, dan aksi teror ini bukan hanya ditujukan kepada Prancis, melainkan juga seluruh umat manusia."
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dunia hanya memiliki satu cara mengatasi teror global yang terjadi saat ini.
"Semua komunitas internasional harus bersatu," tegas Putin.
Rusia, yang sejak akhir September memulai operasi militer di Suriah, diyakini akan semakin menggencarkan serangan di negeri itu.
Identifikasi Sehari setelah serangan, kepolisian Prancis mengumumkan telah mengidentifikasi satu dari tujuh pelaku penyerangan.
Ia warga negara Prancis bernama Omar Ismail Mostefai, 29, yang teridentifikasi melalui jari terputus dan ditemukan di hall konser Bataclan, Paris, lokasi serangan terparah.
Otoritas Prancis juga menemukan paspor Suriah di dekat jasad pelaku penyerangan.
Kendati belum dipastikan pemilik paspor itu salah satu penyerang, paspor itu menimbulkan kecurigaan penyerang mungkin memasuki Eropa bersama imigran yang melarikan diri dari perang sipil Suriah.
Kendati demikian, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker berharap kebijakan imigran yang telah diterapkan di Eropa tidak akan diubah menyusul insiden yang terjadi.
Hal serupa diungkapkan Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere. Ia meminta insiden itu tidak dihubung-hubungkan dengan arus pencari suaka yang membanjiri Eropa.
Di Indonesia, meskipun potensi serangan terorisme lebih kecil daripada ke negara-negara Barat, Wapres Jusuf Kalla tetap meminta Polri dan TNI terus bersiaga menjaga tempat keramaian dan objek strategis.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pun memerintahkan polda dan jajaran memperketat pengamanan kedutaan dan konsulat jenderal negara sahabat. Pengamanan juga dilakukan di objek vital lain seperti sekolah dan lembaga bahasa asing. (AFP/Pra/Kim/Beo/X-7)