TUJUH murid perempuan sibuk mempersiapkan diri. Sesekali mereka memastikan lembar-lembar kertas berisi daftar pertanyaan telah siap di tangan. Ketujuhnya tampak antusias menemui narasumber mereka.
Kemarin (Rabu, 11/11/2015), tujuh siswi yang tergabung dalam Reporter Cilik Media Indonesia Angkatan 2015 itu hadir di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Narasumber mereka kali ini ialah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Di ruang penerimaan tamu yang bernuansa hangat dengan dominasi warna kayu, empat siswi duduk berjajar di sisi kanan Retno, sedangkan tiga lainnya di sisi kiri. Perbincangan pun dimulai. Setiap siswi dipersilakan mengajukan dua pertanyaan.
Nihaya Mumtaz Suratno dari SDN Duren Tiga 01 Pagi, Pancoran, Jakarta Selatan, bertanya soal kriteria ideal menjadi pemimpin. Retno menjawab seorang pemimpin harus bisa memberi contoh kepada tim kerja. Beruntungnya, perempuan dari lima bersaudara itu sudah dididik disiplin sejak kecil oleh ibunya. Tanpa perlu diingatkan, Retno kecil sadar bahwa belajar ialah kewajiban.
"Selain itu, seorang pemimpin harus bisa mengayomi. Jadi pemimpin jangan marah-marah terus. Orang tidak bisa kerja maksimal kalau suasana panas," tutur Retno yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Belanda.
Agar menjadi pemimpin yang baik, tambah Retno, tentu anak Indonesia harus pintar. Apalagi dengan iklim demokratis dan banyaknya kesempatan serta fasilitas.
Pintar pun, tambah Retno, harus dibarengi sikap santun dan menghormati budaya. "Buat apa pintar tapi tidak baik? Kalau tidak baik, khawatir kepintarannya dijadikan kejahatan. Pintar dan baik tidak bisa dipisahkan," jelas Retno.
Menlu mengisahkan sejak remaja ia bercita-cita menjadi diplomat. Alasannya sederhana. Saat remaja, ia kerap melihat diplomat di layar kaca memakai baju bagus dan kerap ke luar negeri. Ketertarikan itu menumbuhkan tekadnya mewujudkan citai-cita hingga kini menjadi menlu.
Di tengah wawancara, telepon seluler Retno berdering. Menlu Filipina Albert del Rosario ada di ujung sambungan. Sesaat, ketujuh reporter cilik tertegun menyaksikan kesibukan Menlu. Begitu mengakhiri panggilan telepon, Retno kembali menjelaskan menjadi menlu itu harus bekerja keras. Retno bahkan tidur dengan telepon seluler di sebelah bantal. "Jika ada kondisi mendesak, kita bisa dengan mudah membalasnya," kata dia.
Di akhir wawancara, Patricia, siswi kelas enam SD Tunas Pertiwi, Cimanggu, Bogor, berterima kasih kepada Menlu yang meluangkan waktu diwawancara. Retno pun melontarkan harapan siswi-siswi itu menjadi anak-anak pintar sekaligus santun. (I-1)