DI dalam tenda-tenda berpendingin yang didirikan di hanggar pada pangkalan NATO di Melilli, Sisilia, Italia, Cristina Cattaneo dan timnya melakukan autopsi. Mereka mengenakan sarung tangan, jubah, dan masker, sebelum memindahkan sosok-sosok jenazah dari lemari pendingin ke meja autopsi. Jasad-jasad itu merupakan kelompok migran yang ditemukan akibat kecelakaan kapal dalam perjalanan mereka ke Eropa, April lalu, yang menewaskan 800 orang.
Tujuan Cattaneo dan timnya ialah mengidentifikasi jasad-jasad itu. "Kita harus melakukan segalanya untuk bisa mengidentifikasi nama dan nama keluarga orang-orang ini," ujar Cattaneo yang merupakan Kepala Laboratorium Forensik Patologi Labanof, Italia. Laboratorium itu spesialis dalam mengidentifikasi jasad-jasad yang sudah membusuk, terbakar, atau termutilasi.
Dalam sehari, Cattaneo beserta timnya memeriksa sekitar 20 jenazah. Tentu saja itu bukan hal yang mudah apalagi tim forensik harus menyingkap identitas jasad yang kondisinya kebanyakan sudah membengkak dan abu-abu. Bekas luka atau tato terkadang menjadi satu-satunya petunjuk identitas. Kerja tim forensik kian sulit karena tidak ada daftar nama penumpang di kapal, dokumen-dokumen pun rusak terendam. Terlebih lagi banyak migran yang tiba di Eropa dengan selamat enggan melapor jika ada kerabat yang hilang karena khawatir bakal dipulangkan ke negara asal. "Ini merupakan bencana besar yang paling kompleks dalam sejarah ilmu forensik," ujar Cattaneo.
Upaya identifikasi para migran yang tewas itu bermula saat Cattaneo dipanggil Vittorio Piscitelli, yakni pejabat tinggi organisasi Italia pencari orang hilang. Piscitelli berambisi membuat katalog bank data berisi informasi DNA dan fitur lain yang memungkinkan para migran di negara Uni Eropa menemukan jasad kerabat mereka.
Tim fotografi Laboratorium Labanof mengumpulkan foto gigi, dahi, telinga, bekas luka, tato atau tindik yang ditemukan pada jasad-jasad itu dalam sebuah album. "Kami telah mengidentifikasi 28 orang sejauh ini dengan menunjukkan album itu kepada orang yang melakukan perjalanan ke sini dari Jerman, Swiss, Prancis," kata Piscitelli.
Ia berharap identifikasi lanjutan bisa dilakukan melalui Komisi Internasional Orang Hilang (ICMP). Piscitelli juga mengimbau kedutaan besar, konsulat, dan lembaga kemanusiaan seperti International Committee for Red Cross untuk membantu. Ia pun meminta pemerintah Italia untuk menyebarkan album tersebut. Menciptakan bank data itu mungkin memang sulit. Namun, Piscitelli dan Cattaneo optimistis hal itu akan berhasil apalagi jika bank data itu disebar di negara-negara Eropa. "Sejauh ini, jumlah keberhasilan identifikasi memang masih sedikit tapi kami telah membuktikan bahwa upaya ini berhasil," ucap Cattaneo.