Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Rakyat Myanmar Nikmati Pemilu Bebas

Haufan Hasyim Salengke
09/11/2015 00:00
Rakyat Myanmar Nikmati Pemilu Bebas
Pemimpin oposisi Myanmar dan Partai National League for Democracy (NLD), Aung San Suu Kyi, tersenyum kepada para pendukungnya sebelum memberikan suara di tempat pemungutan suara dalam pemilu Myanmar di Yangon, kemarin.(AFP/NICOLAS ASFOURI)

RAKYAT Myanmar memberikan hak pilih mereka dalam pemilihan umum (pemilu) bersejarah, kemarin, dengan tingkat keikutsertaan yang sangat signifikan.

Partai pimpinan tokoh prodemokrasi Aung San Suu Kyi diprediksi naik ke pucuk kekuasaan sekaligus mengakhiri puluhan tahun kekuasaan militer.

Dengan ditandai euforia pemilih, kertas suara mulai dihitung setelah tempat pemungutan suara (TPS) resmi ditutup pada pukul 16.00 waktu setempat.

Televisi pemerintah menyiarkan langsung proses penghitungan suara di beberapa TPS.

Wakil Direktur Komisi Pemilihan Umum, Thant Zin Aung, mengindikasikan tingkat keikutsertaan pemilih dalam pemilu parlemen tersebut mencapai 80%, sebuah pertanda awal bahwa kalangan oposisi akan meraih suara mayoritas dan sekaligus menumbangkan rezim militer.

Lebih dari 30 juta orang terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu paling bebas Myanmar selama satu generasi itu.

Pemungutan suara berlangsung mulus tanpa kendala berarti. Banyak pemegang hak suara muncul di TPS dengan wajah semringah.

Rasa gembira begitu tampak di antara para warga yang berbaris rapi di TPS karena kali ini mereka bisa memilih tanpa 'tekanan'.

"Kami sudah ditekan dalam waktu yang sangat lama oleh pemerintah," kata U Saan Maw, 63, yang memberikan suara dan memastikan para sahabat dan keluarganya juga mencoblos.

"Ini kesempatan kita untuk (meraih) kebebasan," tambahnya.

"Saya sangat gembira dan begitu khawatir, takut telah melakukan kesalahan karena tangan saya gemetar," ujar Kay Khine Soe, penjaja ikan yang berasal dari Kawhmu, basis pemilih Suu Kyi.

Militer menghormati

Di Yangon, Suu Kyi tampil di TPS menge-nakan rok tradisional dengan bunga di rambutnya yang menjadi ciri khas.

Pemimpin prodemokrasi itu meninggalkan bilik suara tanpa berkomentar.

Partai yang dipimpinnya, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), percaya jika benar-benar berlangsung jujur, pemilu ini bakal mengantarkan NLD ke kekuasaan.

Di Naypyidaw, ibu kota Myanmar, Presiden Thein Sein tersenyum di hadapan wartawan dengan mengacungkan jari kecilnya yang berlumuran noda tinta ungu, pertanda sudah memberikan hak suara.

Partai Thein Sein, Partai Solidaritas Persatuan dan Pembangunan (USDP), yang didukung militer, merupakan saingan utama NLD.

Banyak pemilih tetap khawatir tentang bagaimana sosok terkuat di militer tersebut akan bereaksi jika USDP mencapai hasil buruk.

Beberapa pemilu sebelumnya, selama periode junta militer, diwarnai kecurangan dan pembungkaman oposisi.

Namun, Kepala Angkatan Bersenjata Myanmar Min Aung Hlaing menepis kekhawatiran itu dengan mengatakan militer akan menerima hasil pemilu dan menghormati suara pemilih.

"Seperti pemenang menerima hasilnya, begitulah pihak yang kalah (harus bersikap)," ujar Aung Hlaing seusai mencoblos di Naypyidaw.

Seperti dilaporkan The New York Times, pemenang pemilu parlemen tidak akan segera diumumkan secara resmi dalam beberapa hari ke depan.

(AFP/BBC/X-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya