Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

AS Gunakan Taktik Double Tap di Iran, 13 Orang Tewas di Jembatan Tertinggi Timur Tengah

Irvan Sihombing
04/4/2026 16:52
AS Gunakan Taktik Double Tap di Iran, 13 Orang Tewas di Jembatan Tertinggi Timur Tengah
Ilustrasi(Xinhua)

AKSI militer Amerika Serikat dan Israel di Jembatan B1 Karaj, Iran, memicu kecaman setelah taktik serangan ganda atau double tap menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk personel medis. Meski petugas tanggap darurat merupakan warga sipil yang dilindungi hukum internasional, serangan susulan tetap diluncurkan satu jam setelah ledakan pertama pada proyek infrastruktur vital di Provinsi Alborz tersebut.

"Jumlah orang kehilangan nyawanya dalam serangan Amerika-Israel di Jembatan B1 di Provinsi Alborz telah meningkat menjadi 13 orang," kata Direktur Jenderal Yayasan Veteran dan Martir Alborz, Amir Hossein Daneshkuhan, Sabtu (4/4).

Serangan Hantam Infrastruktur Strategis

Serangan gabungan tersebut dilaporkan menghantam jembatan utama yang berada di jalan raya Provinsi Alborz, Iran utara, pada Kamis pagi (2/4). Kantor Berita Mahasiswa Iran melaporkan sejumlah lokasi di kawasan Azimieh dekat Karaj turut terdampak, termasuk Jembatan B1 yang disebut sebagai jembatan tertinggi di Timur Tengah.

Selain korban tewas, sejumlah warga juga dilaporkan mengalami luka-luka. Infrastruktur jembatan yang merupakan bagian dari proyek besar dan dijadwalkan segera diresmikan itu mengalami kerusakan cukup signifikan.

Laporan Serangan Double Tap

Laporan media menyebut militer Amerika melakukan serangan bertipe double tap, yakni menyerang lokasi yang sama dua kali secara berurutan.

Serangan kedua terjadi sekitar satu jam setelah serangan pertama, saat petugas tanggap darurat telah berada di lokasi untuk membantu korban luka. Personel tersebut disebut sebagai warga sipil yang dilindungi berdasarkan hukum internasional.

Bagian dari Eskalasi Konflik Kawasan

Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang berlangsung sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika. Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan penerbangan internasional.

Perkembangan konflik di Timur Tengah tersebut terus meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi global. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya